TARAKAN – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara mendorong percepatan ekspor langsung dari Kalimantan Utara tanpa melalui provinsi lain. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah hingga ke tingkat nelayan dan pelaku usaha kecil.
Kepala BKHIT Kaltara, Ichi Langlang Buana Machmud, menyampaikan bahwa pihaknya akan memaksimalkan fungsi karantina sebagai economic tools atau instrumen pendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kami akan memfasilitasi dan mengonsolidasikan potensi ekspor agar produk unggulan Kalimantan Utara bisa langsung dikirim dari sini,” ujarnya.
Salah satu komoditas yang menjadi fokus adalah rumput laut. Selama ini, ekspor rumput laut dari Kalimantan Utara umumnya dilakukan melalui daerah lain seperti Sulawesi Selatan dan Surabaya. Bahkan, sebagian pengiriman transit lebih dulu ke Bali sebelum diekspor ke Korea Selatan.
Menurut Ichi, secara ketersediaan barang dan dukungan logistik, ekspor langsung dari Tarakan sangat memungkinkan. Koordinasi telah dilakukan dengan pihak pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan nelayan rumput laut.
“Barangnya ada, jalur logistik memungkinkan. Tinggal bagaimana kita konsolidasikan volume agar memenuhi kebutuhan minimal muatan kontainer,” jelasnya.
Ia menambahkan, kendala yang akan ditelusuri meliputi efisiensi biaya logistik, kapasitas produksi, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah.
Sebagai bagian dari strategi akselerasi ekspor, BKHIT Kaltara juga membuka peluang menghadirkan pembeli (buyer) dari luar negeri ke Tarakan. Sebelumnya, beberapa buyer dari India telah datang untuk mencari informasi komoditas unggulan daerah.
Langkah ini dinilai dapat mempercepat terwujudnya ekspor langsung dan memperkuat posisi tawar produk lokal di pasar internasional.
Di sisi lain, BKHIT Kaltara juga akan memperkuat pengawasan terhadap arus impor, khususnya produk pangan dan hewan ternak. Pengawasan dilakukan berdasarkan analisis risiko, mulai dari risiko rendah hingga tinggi.
Komoditas berisiko tinggi seperti hewan ternak menjadi perhatian khusus karena berpotensi membawa penyakit seperti PMK dan antraks yang dapat mengancam peternakan lokal.
“Kami akan memetakan terlebih dahulu seluruh potensi risiko. Penindakan menjadi langkah terakhir setelah pembinaan dan pengawasan dilakukan,” tegasnya.
Dengan langkah ini, BKHIT Kaltara berharap ekspor Kalimantan Utara dapat tumbuh signifikan sekaligus menjaga keamanan hayati dan mutu pangan di wilayah perbatasan.(*)












Discussion about this post