Tarakan — Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) Kalimantan Utara kembali menggelar in-house training dengan tema “Penguatan Kompetensi SDM dalam Pengolahan dan Pelayanan Air Minum Profesional dan Berkelanjutan PDAM Kalimantan Utara.”
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Perusahaan Jasa Air Minum (PJAM) se-Kalimantan Utara, di antaranya dari Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung. Pelatihan difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan pengelolaan air minum yang semakin kompleks.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah manajemen risiko, yang dibawakan oleh Prof. Dr. Tri Ratnawati, seorang akademisi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di salah satu Universitas Surabaya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa manajemen risiko terbagi menjadi dua kategori utama, yakni risiko yang dapat dikendalikan (internal) dan risiko yang tidak dapat dikendalikan (eksternal).
“Setiap perusahaan harus mampu merencanakan, mengorganisasikan, mengimplementasikan, hingga mengawasi manajemen risiko secara menyeluruh. Termasuk melakukan audit internal untuk memastikan pengelolaannya berjalan efektif,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa seluruh badan usaha, baik milik daerah maupun negara, wajib menjamin keberlanjutan (sustainability) perusahaan melalui pengelolaan risiko yang baik. Proses tersebut meliputi inventarisasi risiko, identifikasi, pengelompokan berdasarkan tingkat risiko (tinggi, sedang, rendah), hingga penilaian dan tindak lanjut.
Menurutnya, penerapan teknologi informasi juga menjadi bagian penting dalam manajemen risiko modern, seperti penggunaan early warning system dengan indikator warna untuk mendeteksi potensi masalah sejak dini.
Selain manajemen risiko, pelatihan ini juga membahas laporan keuangan serta perubahan standar akuntansi, dari SAK ETAP menuju SAK Entitas Privat (SAK EP). Hal ini dinilai penting agar pengelolaan keuangan PJAM lebih transparan dan sesuai dengan regulasi terbaru.
“Baik auditor internal maupun akuntan publik harus mampu melihat risiko dalam sebuah bisnis. Hal ini akan berpengaruh terhadap temuan audit, rekomendasi, hingga opini audit yang diberikan,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan seluruh PJAM di Kalimantan Utara dapat meningkatkan kompetensi SDM, khususnya dalam pengelolaan risiko dan keuangan, guna mendukung pelayanan air minum yang lebih profesional dan berkelanjutan.(*)











Discussion about this post