TARAKAN – Inovasi digital untuk membentuk kebiasaan dan karakter positif pelajar dikembangkan dari lingkungan SMP Negeri 7 Tarakan. Inovasi tersebut kemudian berkembang menjadi Siganak Hibot, aplikasi yang kini diadopsi Dinas Pendidikan Kota Tarakan untuk diterapkan di sekolah-sekolah jenjang TK, PAUD, SD, hingga SMP.
Kepala SMP Negeri 7 Tarakan, Budi Setyaning, mengatakan, gagasan awal inovasi tersebut berangkat dari upaya sekolah membangun pembiasaan positif bagi peserta didik.
Menurutnya, pembiasaan dimulai dari hal-hal sederhana, seperti senyum, sapa dan salam yang dilakukan saat menyambut siswa di depan sekolah. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan literasi untuk meningkatkan minat baca, kegiatan ibadah seperti salat duha dan salat zuhur berjemaah, serta pembiasaan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
“Dari situ kami coba kembangkan. Ternyata ide itu sejalan dengan program Bapak Menteri Pendidikan, yaitu 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Maka kegiatan yang awalnya dibuat sekolah kami integrasikan dengan program tersebut,” ujar Budi.
Pembiasaan tersebut kemudian dikembangkan melalui panduan bagi orang tua dan wali kelas. Orang tua diberikan buku penghubung untuk memantau kebiasaan anak selama berada di rumah, sementara wali kelas memiliki panduan untuk memantau aktivitas dan pembiasaan siswa di lingkungan sekolah.
“Jadi orang tua mengawasi apa yang dilakukan anak-anak di rumah. Di sekolah juga kami membuat buku panduan wali kelas supaya wali kelas dapat memantau pembiasaan yang dilakukan anak-anak,” jelasnya.
Dari proses tersebut, pihak SMP Negeri 7 Tarakan kemudian berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan Kota Tarakan. Gagasan itu mendapat respons positif hingga akhirnya dikembangkan menjadi sebuah aplikasi digital bernama Siganak Hibot.
Pengembangan aplikasi dilakukan melalui kolaborasi tim teknologi informasi SMP Negeri 7 Tarakan bersama tim IT Dinas Pendidikan Kota Tarakan. Aplikasi tersebut dirancang agar sistem pembiasaan dan pemantauan karakter siswa tidak hanya diterapkan di satu sekolah, tetapi dapat direplikasi di sekolah lainnya.
Budi mengatakan, penerapan Siganak Hibot saat ini diarahkan untuk sekolah jenjang TK, PAUD, SD, dan SMP di Kota Tarakan. Sementara untuk jenjang SMA berada dalam kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.
Ia berharap penggunaan aplikasi tersebut tidak berhenti pada tahap pembuatan sistem digital, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik secara berkelanjutan.
“Kami berharap ini sebagai bentuk keberlanjutan. Supaya tidak berhenti sebatas sudah dibuat aplikasi, tetapi betul-betul dikembangkan dan dilaksanakan sehingga menjadi sebuah kebiasaan positif yang selalu dilakukan dengan penuh kesadaran,” katanya.
Menurut Budi, pembentukan karakter tidak seharusnya dilakukan dengan paksaan. Kebiasaan positif diharapkan tumbuh melalui kesadaran siswa, dengan dukungan bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
“Ketika anak-anak sudah berkesadaran sendiri, mereka akan melakukan semua aktivitas itu dengan senang hati. Dari situ terbentuk karakter baik yang kita inginkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, capaian pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik. Pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam proses pendidikan sehingga siswa tidak hanya memiliki kemampuan secara akademis, tetapi juga memiliki kebiasaan dan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Capaian pendidikan tidak hanya diambil dari sisi akademiknya saja. Kita juga perlu mempertimbangkan karakter. Itu tujuan utama kami sebenarnya,”tutupnya.(*)













Discussion about this post