TARAKAN – SMP Negeri 1 Tarakan masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler, terutama terkait keterbatasan pelatih dan mekanisme pembiayaan. Kondisi ini membuat sejumlah kegiatan harus berjalan dengan mengandalkan inisiatif guru, alumni, serta dukungan orang tua siswa.
Kepala SMP Negeri 1 Tarakan, Mohammad Rachmat, mengatakan sejumlah kegiatan ekstrakurikuler sebenarnya memiliki peminat yang cukup banyak. Namun, tidak semua kegiatan dapat didukung oleh pelatih yang tersedia. Di sisi lain, terdapat keterbatasan terkait pembayaran tenaga pelatih, khususnya bagi guru yang berstatus aparatur sipil negara (ASN) maupun pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), sehingga mekanisme yang diperbolehkan perlu dipastikan terlebih dahulu.
“Anak-anak banyak yang ingin ikut. Akhirnya ada teman-teman yang berinisiatif membantu tanpa dibayar, termasuk untuk kegiatan futsal dan basket,” ujarnya.
Menurut Rachmat, pihak sekolah juga berupaya mencari jalan keluar melalui koordinasi dengan komite sekolah dan orang tua siswa. Dalam salah satu upaya yang dibahas, sejumlah orang tua bersedia mengumpulkan dana untuk membantu membayar pelatih. Namun, inisiatif tersebut masih menimbulkan pertanyaan terkait dasar hukum dan mekanisme penggunaannya.
Rachmat berharap terdapat kejelasan mengenai aturan pembiayaan pelatih ekstrakurikuler agar kegiatan pengembangan minat dan bakat siswa dapat berjalan lebih optimal. Dengan demikian, siswa tetap memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan di bidang olahraga maupun kegiatan lainnya tanpa terkendala keterbatasan tenaga pembina.













Discussion about this post