TARAKAN – Menghadapi semakin kompleksnya tantangan pergaulan remaja di era digital, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Tarakan menggandeng Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Tarakan, Alghi Fari Smith, S.ST., sebagai narasumber dalam Kelas Parenting bertema “Sinergi Orang Tua dan Madrasah dalam Menghadapi Tantangan Pergaulan Remaja di Era Digital”, Rabu (21/10/2026), di Aula MTs Negeri Tarakan.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus dialog bagi orang tua untuk meningkatkan pemahaman mengenai dinamika perkembangan remaja, mengenali potensi permasalahan yang dihadapi anak, serta memperkuat peran keluarga dan madrasah dalam menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang aman, sehat, dan mendukung pembentukan karakter.
Kepala MTs Negeri Tarakan, Bambang Wahyuono, S.Pd., menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pendidikan dan pembentukan karakter anak tidak dapat hanya dibebankan kepada pihak madrasah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif orang tua sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak.
“Kami sangat mendukung pelaksanaan kelas parenting ini karena sinergi antara orang tua dan madrasah merupakan hal penting dalam mendampingi anak menghadapi tantangan pergaulan yang semakin kompleks. Kami juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para orang tua yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan mengikuti kegiatan ini,” ujar Bambang.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda edukasi sesaat, melainkan menjadi awal dari komunikasi dan kerja sama yang semakin kuat antara keluarga dan madrasah.
“Harapan kami, ke depan sinergitas antara orang tua dan madrasah semakin meningkat. Dengan komunikasi yang baik dan kepedulian bersama, berbagai perubahan perilaku maupun permasalahan yang dihadapi anak dapat dikenali lebih dini dan ditangani secara tepat. Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, dan mampu menghadapi tantangan zaman,” tambahnya.
Kenali Tantangan Remaja, Lakukan Deteksi Dini Perubahan Perilaku Anak
Hadir sebagai narasumber, Alghi Fari Smith, S.ST., Pekerja Sosial pada Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan sekaligus Sahabat Saksi dan Korban (SSK) LPSK RI, mengajak para orang tua memahami bahwa masa remaja merupakan fase perkembangan yang penuh perubahan, baik secara fisik, psikologis, emosional, maupun sosial.
Pada fase ini, remaja mulai membangun identitas diri, memperluas pergaulan, mencari penerimaan dari lingkungan sebaya, dan semakin aktif menggunakan teknologi digital. Tanpa pendampingan yang memadai, berbagai kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap persoalan sosial maupun perilaku berisiko.
Sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai antara lain perilaku seksual berisiko, penyimpangan perilaku seksual yang perlu dipahami secara hati-hati sesuai konteksnya, penyalahgunaan narkoba, tawuran, perundungan (bullying), kekerasan, serta berbagai bentuk pengaruh negatif dari lingkungan pergaulan dan ruang digital.
“Orang tua perlu mengenali berbagai problematika yang berpotensi dihadapi remaja, mulai dari perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan narkoba, tawuran, bullying, hingga persoalan lain yang dapat memengaruhi perkembangan dan masa depan anak. Mengenali tantangan tersebut bukan berarti mencurigai anak secara berlebihan, melainkan membekali diri agar kita mampu mendampingi mereka dengan tepat,” jelas Alghi.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak, baik di rumah maupun di lingkungan madrasah. Perubahan pola komunikasi, kebiasaan, pergaulan, emosi, motivasi belajar, atau interaksi sosial dapat menjadi sinyal yang perlu dicermati lebih lanjut, tanpa terburu-buru memberikan penilaian.
“Ketika orang tua atau guru melihat perubahan perilaku anak, jangan langsung menghakimi atau memberikan label negatif. Bangun komunikasi yang aman, dengarkan apa yang ingin disampaikan anak, lalu lakukan penggalian masalah atau asesmen untuk memahami penyebabnya. Dengan kerja sama orang tua dan madrasah, kita dapat menentukan intervensi yang tepat agar anak memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya,” ungkapnya.
Menurutnya, respons yang cepat, proporsional, dan tidak menghakimi sangat penting agar permasalahan tidak berkembang menjadi lebih kompleks. Anak perlu merasa bahwa rumah dan madrasah merupakan tempat yang aman untuk bercerita, meminta pertolongan, serta memperoleh pendampingan.
Memahami “Tangki Cinta” Anak, Kunci Membangun Kedekatan Emosional
Selain membahas tantangan pergaulan remaja, materi parenting juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan emosional anak melalui konsep “tangki cinta”. Konsep ini digunakan untuk membantu orang tua memahami bahwa setiap anak dapat memiliki cara berbeda dalam merasakan dan menerima kasih sayang.
Menurut Alghi, pemenuhan kebutuhan emosional melalui perhatian, penerimaan, komunikasi, dan kasih sayang yang konsisten merupakan salah satu upaya preventif untuk memperkuat hubungan orang tua dan anak. Kedekatan emosional dapat membantu anak merasa dihargai, memiliki tempat bercerita, serta lebih terbuka ketika menghadapi masalah.
“Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam merasakan kasih sayang. Karena itu, orang tua perlu mengenali tangki cinta anak agar perhatian yang diberikan benar-benar dirasakan oleh anak. Ketika kebutuhan emosionalnya terpenuhi, anak diharapkan merasa lebih aman, dihargai, dan nyaman untuk terbuka kepada orang tuanya,” tutur Alghi.
Ia kemudian menjelaskan lima bentuk ekspresi kasih sayang yang dapat dikenali orang tua, yaitu kata-kata afirmasi atau pujian, pemberian hadiah, sentuhan fisik yang pantas dan disetujui anak, tindakan pelayanan atau bantuan, serta waktu berkualitas (quality time).
Anak yang menyukai kata-kata afirmasi, misalnya, cenderung merasa dihargai ketika memperoleh apresiasi yang tulus. Anak yang menyukai hadiah dapat merasakan perhatian melalui pemberian sederhana yang bermakna. Sementara itu, sentuhan fisik yang sesuai, aman, dan menghormati batas pribadi anak dapat menjadi bentuk kehangatan bagi anak yang nyaman menerimanya.
Bentuk lainnya adalah pelayanan, seperti membantu anak ketika mengalami kesulitan, serta waktu berkualitas, yakni menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan cerita, berbincang, atau melakukan kegiatan bersama tanpa terdistraksi oleh telepon genggam maupun pekerjaan lainnya.
“Jangan sampai kita merasa sudah memberikan kasih sayang, tetapi anak belum merasakannya karena cara yang kita gunakan tidak sesuai dengan kebutuhannya. Kenali apakah anak lebih membutuhkan apresiasi, hadiah bermakna, sentuhan yang membuatnya nyaman, bantuan nyata, atau waktu berkualitas. Yang terpenting, berikan kasih sayang dengan tulus, konsisten, dan tetap menghormati batasan anak.
Kami menawarkan kolaborasi kegiatan kelas parenting lanjutan kepada berbagai pihak. Informasi kolaborasi dapat menghubungi nomor WA 085924900137,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan tangki cinta bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku anak. Namun, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari pengasuhan positif untuk membangun kelekatan emosional, meningkatkan keterbukaan, dan memperkuat faktor pelindung anak dari berbagai risiko sosial.
Dikemas Interaktif, Peserta Aktif Berbagi Pengalaman
Kelas parenting berlangsung dengan suasana interaktif dan penuh antusiasme. Kegiatan diawali dengan senam otak (brain gym) yang bertujuan membantu peserta melatih konsentrasi dan memori jangka pendek sebelum memasuki materi utama.
Suasana kemudian dibangun melalui curah pendapat antarpeserta, sehingga orang tua memperoleh kesempatan berbagi pengalaman, pandangan, dan tantangan dalam mendampingi anak di rumah. Sesi ice breaking turut mencairkan suasana, sedangkan simulasi role playing membantu peserta mempraktikkan cara berkomunikasi dan merespons situasi yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari bersama anak.
Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga diajak merefleksikan pola komunikasi dan pengasuhan yang selama ini diterapkan. Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat membantu orang tua menerapkan langkah-langkah sederhana, mulai dari membangun komunikasi terbuka, mengamati perubahan perilaku, hingga merespons persoalan anak tanpa mengedepankan kemarahan maupun penghakiman.
Salah satu panitia menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan dengan tema yang lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan orang tua serta perkembangan persoalan remaja.
“Kami berharap kelas parenting ini dapat berlanjut dan menjadi agenda edukasi yang berkesinambungan. Tantangan yang dihadapi anak-anak terus berkembang, sehingga orang tua juga perlu terus belajar dan memperbarui pengetahuan agar dapat mendampingi anak dengan lebih baik,” ungkapnya.
Membangun Generasi Berkarakter Melalui Kolaborasi
Pelaksanaan kelas parenting ini menegaskan bahwa perlindungan dan pendampingan remaja membutuhkan keterlibatan bersama. Orang tua berperan membangun kedekatan emosional dan menyediakan lingkungan keluarga yang aman, sementara madrasah berperan dalam pendidikan, penguatan karakter, pengamatan perkembangan peserta didik, serta komunikasi dengan keluarga ketika muncul persoalan.
Kolaborasi tersebut perlu dilanjutkan melalui komunikasi yang terbuka, penyampaian informasi secara proporsional, dan rujukan kepada tenaga profesional atau layanan terkait apabila anak membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Melalui kolaborasi MTs Negeri Tarakan dengan Peksos Dinsos PM Tarakan, diharapkan pemahaman orang tua semakin meningkat dan kemitraan antara keluarga dan madrasah semakin kuat. Dengan demikian, anak-anak diharapkan mampu menghadapi tantangan pergaulan di era digital dan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berakhlak, bertanggung jawab, serta mampu mengambil keputusan secara bijak.(*)













Discussion about this post