TARAKAN – Ratusan warga memadati Klenteng Tao Pek Kong pada malam menjelang puncak perayaan Imlek 2577 Kongzili atau Tahun Baru Imlek 2026, Senin (16/2/2026) malam.
Sejak pukul 18.00 Wita, masyarakat sudah berdiri di depan klenteng menanti dentuman gendang dan kemunculan barongsai yang menjadi ikon setiap perayaan Tahun Baru Tionghoa. Suasana semakin semarak saat tabuhan musik tradisional mulai terdengar dan delapan ekor barongsai tampil bergantian.
Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Kalimantan Utara, Ayi Diyanto, mengatakan pertunjukan barongsai memang tidak pernah absen dalam setiap rangkaian perayaan Imlek.
“Barongsai ini setiap tahun kita adakan pertunjukan di klenteng. Mereka secara simbolis permisi dulu kepada klenteng atau tuan tanah sebelum tampil,” ujar Ayi.
Menurutnya, meski Tarakan memiliki tim tarian naga, khusus malam puncak Imlek kali ini yang ditampilkan hanya barongsai atau singa.
“Naga tidak ada tampil. Kita di Tarakan punya naga, tapi tidak ditampilkan. Yang ada itu singa, delapan ekor,” jelasnya.
Sekitar 600 Umat Hadir
Ayi memperkirakan jumlah umat Konghucu yang hadir hingga tengah malam mencapai sekitar 600 orang. Sementara masyarakat umum yang datang untuk menyaksikan pertunjukan juga mencapai ratusan orang.
“Begitu musik mulai saja, masyarakat sudah tunggu dari jam 6 sore. Malam ini lebih ramai karena cuaca mendukung,” katanya.
Barongsai, lanjut Ayi, merupakan seni tari tradisional masyarakat Tionghoa yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang.
“Barongsai itu seni, tarian. Identik dengan singa. Tidak bisa diganti dengan yang lain. Kalau naga itu tarian naga, beda lagi,” terangnya.
Dalam tradisi Tionghoa, barongsai dipercaya sebagai simbol keberuntungan, pengusir roh jahat, serta pembawa berkah dan rezeki di awal tahun baru. Karena itu, setiap hendak tampil, baik untuk kunjungan rumah ke rumah saat Imlek hingga Cap Go Meh maupun ke luar daerah, barongsai wajib “permisi” lebih dulu di klenteng.
“Kalau mau tampil di luar kota, mau pertandingan, harus datang ke klenteng dulu. Singanya harus hormat dulu,” tegas Ayi.
Regenerasi Atlet dan Prestasi PON
Di balik meriahnya pertunjukan, Ayi mengakui kebutuhan atlet barongsai di Tarakan masih terbatas. Satu tim barongsai dimainkan oleh dua orang, ditambah delapan penabuh gendang dan musik pengiring. Sementara tarian naga membutuhkan hingga 10 pemain.
“Sebetulnya atlet kita sempat diminta dari Kuala Lumpur untuk Fobi. Tapi kita tidak bisa penuhi, karena di sini juga butuh atlet,” ungkapnya.
Meski regenerasi masih berjalan dan kekuatan atlet belum maksimal, prestasi barongsai Kalimantan Utara patut dibanggakan. Tim barongsai nomor lompat tiang berhasil meraih medali emas pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) di Medan mewakili provinsi tersebut.
“Di Tarakan ini kita khusus barongsai lompat tiang. Kemarin di PON Medan kita dapat emas,” katanya bangga.
Untuk tarian naga sendiri, pembinaan lebih difokuskan di Kabupaten Malinau, sementara Tarakan menitikberatkan pada nomor barongsai lompat tiang.
Hormati Ramadan, Pertunjukan Dibatasi
Menariknya, perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan bulan Ramadan. Ayi mengaku telah berkoordinasi agar pertunjukan barongsai tidak mengganggu ibadah umat Muslim.
“Kalau tampil saat Ramadan, kita batasi sampai jam 7 malam, supaya tidak ganggu tarawih,” katanya.
Ia pun menyampaikan harapan agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan penuh keberkahan.
Usai malam puncak, tradisi dilanjutkan dengan kunjungan ke keluarga pada hari pertama Imlek. Sejumlah pejabat daerah, termasuk Wali Kota dan Ketua DPRD, dijadwalkan bersilaturahmi ke kediaman tokoh Konghucu di Tarakan.
“Kita atur supaya tetap bisa terima tamu, tapi tetap saling menghormati,” pungkasnya. (*)












Discussion about this post