TARAKAN – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) resmi memulai investigasi atas kecelakaan pesawat milik Pelita Air yang jatuh di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Meski pesawat tersebut tidak dilengkapi black box, tim investigator memastikan tetap memiliki instrumen lain yang diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab kecelakaan.
Investigator Keselamatan Penerbangan KNKT, Voltha Herry, menyampaikan bahwa pihaknya telah ditugaskan langsung untuk melakukan investigasi atas insiden tersebut.
“Kami menyampaikan belasungkawa kepada pihak Pelita Air atas kejadian ini. KNKT akan melakukan investigasi yang sifatnya no blaming. Artinya, investigasi ini bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi semata-mata untuk pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.
Fokus Kumpulkan Data
Voltha menegaskan, tahap awal investigasi akan difokuskan pada pengumpulan data sebanyak mungkin sebelum dilakukan analisis mendalam.
“Kami akan melakukan pengumpulan data sebanyak mungkin, sehingga nantinya bisa dianalisis bagaimana kejadian ini bisa terjadi,” katanya.
Ia menjelaskan, pesawat dengan bobot di bawah 5.700 kilogram memang tidak diwajibkan dilengkapi black box sesuai regulasi penerbangan di Indonesia.
“Untuk pesawat dengan bobot di bawah 5.700 kilogram memang tidak diwajibkan dilengkapi black box,” jelasnya.
Black box umumnya berfungsi merekam parameter penerbangan serta percakapan di kokpit. Namun, pesawat ini diketahui dilengkapi perangkat Garmin yang dapat membantu melacak jalur penerbangan.
“Pesawat ini dilengkapi dengan Garmin. Kalau black box bisa merekam parameter penerbangan dan suara, Garmin ini lebih kepada melihat flight track atau jalur penerbangannya,” terangnya.
Kondisi Perangkat Belum Diketahui
Hingga kini, KNKT belum mengetahui kondisi perangkat Garmin tersebut.
“Kami belum tahu apakah Garmin itu masih bisa digunakan atau sudah ikut terbakar, karena kami sendiri belum ke lokasi. Lokasi masih dalam proses sterilisasi oleh pihak keamanan,” tambah Voltha.
Ia menyebut, dirinya bersama satu investigator lain akan segera bertolak ke lokasi setelah kondisi memungkinkan dan koordinasi dengan operator rampung.
“Kami akan berusaha secepatnya berangkat ke lokasi jika sudah memungkinkan. Saat ini masih didiskusikan dengan pihak Pelita dan operator,” katanya.
Saat ini, KNKT belum memiliki data lapangan karena tim baru tiba dan belum melakukan pemeriksaan langsung di lokasi kejadian.
“Data masih belum ada karena kami belum ke lapangan. Informasi yang ada baru sebatas info awal dari operator dan pihak keamanan,” jelasnya.
Sesuai prosedur, KNKT akan mengeluarkan laporan awal dalam waktu satu bulan setelah kejadian, sementara laporan final biasanya diterbitkan sekitar satu tahun setelah insiden.
“Dalam satu bulan biasanya kami mengeluarkan laporan awal yang berisi informasi awal tentang kejadian. Sedangkan laporan final biasanya diterbitkan sekitar satu tahun setelah kejadian,” pungkasnya.(*)











Discussion about this post