Tarakan- Yayasan Almarhamah kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan lanjut usia melalui program Sekolah Lansia NURANI (Nusantara Ramah Lansia). Program ini ditutup dengan Wisuda Lansia jenjang Standar Satu (S1), yang menjadi penanda kelulusan tahap pertama dari rangkaian kurikulum pembinaan.
Ketua Yayasan Almarhamah sekaligus penggagas program NURANI, Muhammad Zulfunun, menjelaskan bahwa wisuda tersebut bukanlah akhir dari proses pembinaan. Para peserta yang telah menyelesaikan S1 masih dapat melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 dengan capaian yang lebih tinggi.
“Pada jenjang S1, fokus utama kami adalah mengubah kepedulian menjadi kebahagiaan. Lansia yang sebelumnya kurang aktif kami dorong untuk kembali beraktivitas melalui berbagai kegiatan sosial agar semangat berinteraksi dan berkontribusi di masyarakat tumbuh kembali,” ujarnya.
Memasuki jenjang S2, pendekatan yang dilakukan adalah mengubah kepedulian menjadi pemberdayaan. Para lansia dibekali keterampilan produktif seperti membatik dan membuat sabun. Melalui pelatihan tersebut, peserta didorong untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi diri agar tetap produktif di usia senja.
Sementara pada jenjang S3, targetnya adalah mencetak lansia sebagai duta lansia. Mereka diharapkan dapat berperan aktif di masyarakat, seperti terlibat dalam kegiatan posyandu, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPK), sekolah lansia, maupun kegiatan sosial lainnya. Tujuan besar program ini adalah menciptakan lansia yang mandiri, berdaya, dan berkontribusi.
Dari sisi pembiayaan, Sekolah Lansia tidak memungut biaya dari peserta. Seluruh pendanaan bersumber dari dana keumatan dan donasi masyarakat yang dikelola Yayasan Almarhamah. Yayasan ini juga mengelola lembaga zakat serta berkolaborasi dengan amil zakat Dompet Dhuafa Nasional. Dana yang terhimpun kemudian disalurkan dalam bentuk program pemberdayaan.
Pendekatan yang digunakan tidak semata bersifat karitatif atau bantuan konsumtif. Program ini menitikberatkan pada perubahan pola pikir dan peningkatan keterampilan lansia agar mampu menjalani kehidupan secara mandiri dan bermakna.
Dalam proses perekrutan peserta, yayasan bekerja sama dengan pemerintah setempat melalui RT, RW, dan kelurahan untuk mendata calon peserta. Lansia yang mengikuti program harus dalam kondisi sehat dan mampu bergerak aktif karena kegiatan dilakukan di luar rumah. Sementara itu, lansia yang dalam kondisi bed rest tetap mendapatkan pendampingan melalui program khusus yang disesuaikan dengan kondisi fisik mereka.
Kurikulum Sekolah Lansia terdiri dari 12 pertemuan yang dilaksanakan dua minggu sekali. Materi disampaikan oleh para ahli, mulai dari dokter spesialis hingga tenaga profesional di bidangnya. Yayasan berperan sebagai pendamping, sementara narasumber memberikan pembinaan sesuai keahlian masing-masing.
Materi pembelajaran mencakup pengetahuan umum, pelatihan keterampilan, pembinaan keagamaan dan ibadah, kesehatan fisik, hingga kegiatan rekreasi. Kurikulum ini dirancang untuk mengaktifkan kembali lansia yang sebelumnya pasif agar menjadi lebih sehat, percaya diri, dan terlibat dalam kehidupan sosial.
Sekolah Lansia Almarhamah menggunakan kurikulum khusus hasil kerja sama dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Yogyakarta serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Secara historis, Yayasan Almarhamah sebelumnya dikenal sebagai panti jompo yang menampung lansia. Namun kini konsep tersebut diubah. Jika panti jompo berfokus pada penampungan, maka Sekolah Lansia mengembalikan lansia ke lingkungan keluarga agar tetap memperoleh dukungan sosial. Keterlibatan keluarga dinilai penting karena model penampungan berpotensi menimbulkan dampak sosial dan psikologis jika tidak dikelola dengan tepat.
Program yang diwisuda saat ini merupakan angkatan pertama Sekolah Lansia Almarhamah.
Selain Sekolah Lansia, pada bulan Ramadan Yayasan Almarhamah juga menghadirkan sejumlah program baru, di antaranya Pesantren Lansia yang berfokus pada pembinaan keagamaan, program BBM (Belanja Barang Sembako), serta berbagai kegiatan pembinaan lainnya. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari komitmen yayasan dalam memberdayakan lansia secara berkelanjutan.(*)












Discussion about this post