Tarakan- Khairul secara resmi melepas 186 jemaah haji asal Tarakan dalam sebuah acara yang digelar di Gedung Serbaguna Pemerintah Kota Tarakan. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh keluarga jemaah serta sejumlah pejabat daerah.
Walikota Tarakan Khairul yang juga menjadi salah satu calon jemaah haji asal Kaltara menyampaikan bahwa pelepasan dilakukan lebih awal sebagai bagian dari upaya memberikan waktu bagi jemaah untuk mempersiapkan diri secara optimal sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Ia menegaskan bahwa satu minggu menjelang keberangkatan, para jemaah diharapkan sudah tidak lagi disibukkan dengan berbagai kegiatan seremonial.
“Mulai sekarang, kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial seperti selamatan dan sejenisnya sebaiknya sudah dihentikan. Fokuskan diri untuk menjaga kondisi kesehatan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan ibadah haji merupakan perjalanan panjang yang memerlukan stamina prima. Oleh karena itu, para jemaah diminta menjaga pola hidup sehat dengan memperhatikan asupan gizi, memperbanyak konsumsi air putih, cukup istirahat, serta tetap melakukan olahraga ringan guna menjaga kebugaran tubuh.
Menurut Khairul, ibadah haji bukan hanya membutuhkan kesiapan secara ekonomi, tetapi juga kesiapan fisik dan spiritual. Dari sisi ekonomi, para jemaah dinilai telah memenuhi syarat karena telah melunasi biaya perjalanan. Sementara dari sisi fisik, berbagai tahapan seperti pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kebugaran telah dilalui.
Namun demikian, ia menekankan bahwa kesiapan spiritual menjadi aspek yang tidak kalah penting. Jemaah diharapkan mempersiapkan diri secara mental untuk menjalankan rangkaian ibadah dengan penuh keikhlasan, memperbanyak ibadah, zikir, serta memohon ampunan.
“Yang paling penting adalah kesiapan mental dan spiritual. Ibadah haji ini adalah ibadah yang menuntut kesabaran tinggi,” katanya.
Khairul juga mengingatkan bahwa kondisi di Tanah Suci akan sangat berbeda dengan di daerah asal. Dengan jumlah jemaah yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang dari berbagai negara, situasi di lapangan seringkali tidak ideal. Oleh karena itu, ia meminta para jemaah untuk mampu mengendalikan emosi dan menjaga sikap.
Menurutnya, kelelahan selama menjalankan ibadah berpotensi memicu emosi, baik terhadap sesama jemaah, petugas, maupun kondisi sekitar. Untuk itu, kesabaran menjadi kunci utama dalam menjalankan ibadah haji dengan baik.
“Pelayanan tentu diupayakan maksimal, baik oleh pemerintah Indonesia maupun pemerintah Arab Saudi. Namun dengan jumlah jemaah yang sangat besar, tidak mungkin semuanya berjalan sempurna. Di sinilah pentingnya kesabaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, ibadah haji sejatinya juga menjadi sarana untuk melatih diri dalam menghadapi berbagai kondisi yang tidak selalu sesuai harapan. Kemampuan menerima keadaan dan tetap menjaga ketenangan menjadi bagian penting dalam meraih haji yang mabrur.
Dalam kesempatan tersebut, Khairul juga menyampaikan bahwa dirinya turut bergabung dalam rombongan jemaah haji tahun ini. Ia berharap seluruh jemaah asal Tarakan dapat saling menjaga, membantu satu sama lain, serta mengikuti arahan petugas selama berada di Tanah Suci.
Acara pelepasan ditutup dengan doa bersama agar seluruh jemaah diberikan kesehatan, kelancaran dalam menjalankan ibadah, serta dapat kembali ke tanah air dengan selamat dan memperoleh predikat haji yang mabrur.(*)











Discussion about this post