TARAKAN- Kepala Badan Karantina Nasional (Barantin) Abdul Kadir Karding melihat keratom sebagai komoditas yang memiliki potensi ekonomi besar apabila dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara tepat.
Menurut Abdul Kadir, keratom selama ini memiliki nilai jual tinggi di pasar luar negeri. Ia mendorong agar komoditas tersebut tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk untuk kebutuhan industri obat.
“Kalau saya pribadi, keratom itu sebenarnya potensi ekonomi. Di luar juga dijual mahal dan bisa diproses dalam bentuk yang lebih bernilai,” ujar Abdul Kadir.
Ia mengatakan, pemanfaatan keratom untuk industri obat masih perlu melalui kajian dan pengujian dari lembaga terkait. Abdul Kadir mengaku telah berkomunikasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait potensi tersebut.
“Tinggal mungkin nanti ada pembicaraan juga dengan Menteri Kesehatan dan BNN,” katanya.
Abdul Kadir menilai, apabila keratom memiliki kandungan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan farmasi, pengembangannya dapat diarahkan menjadi bahan baku maupun produk obat.
“Saya ingin daripada itu jadi mubazir, saya ingin itu dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia juga menyebut keratom tidak hanya ditemukan di Kalimantan Utara (Kaltara), tetapi juga terdapat dalam jumlah besar di Kalimantan Barat (Kalbar). Bahkan, menurutnya, terdapat satu kampung atau wilayah dalam satu kabupaten yang banyak menghasilkan komoditas tersebut.
“Selain Kaltara ada di daerah lain? Kalbar. Kalbar juga ada, besar di sana, satu kampung, satu kabupaten,” kata Abdul Kadir.
Saat ini, keratom antara lain diperdagangkan dalam bentuk bubuk atau powder. Sebagian produk tersebut diekspor dan sebagian lainnya dimanfaatkan untuk berbagai olahan, termasuk rancangan produk jamu.
“Sekarang itu powder, bubuk. Itu ada yang diekspor, ada yang dijadikan rancangan-rancangan jamu dan sebagainya,” katanya.
Abdul Kadir berharap kajian bersama lembaga terkait dapat membuka peluang pemanfaatan keratom secara lebih optimal, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut bagi masyarakat daerah penghasil.(*)












Discussion about this post