TARAKAN – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan mulai mematangkan persiapan penerapan pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa sekolah dasar (SD). Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyiapkan tenaga pendidik melalui bimbingan teknis (bimtek) sebelum pembelajaran tersebut mulai diterapkan pada tahun depan.
Kepala Disdik Kota Tarakan, Tamrin Toha, mengatakan pembelajaran bahasa Inggris tersebut direncanakan dimulai dari kelas III SD. Karena itu, persiapan guru dilakukan sejak tahun ini agar tenaga pendidik yang ditugaskan nantinya memiliki bekal untuk mengajar siswa.
“Kita masih fokus untuk menerapkan pembelajaran bahasa Inggris itu mulai dari SD kelas tiga. Itu pun tahun depan. Sehingga mulai tahun ini, guru-guru yang nanti akan ditugaskan untuk memberikan pembelajaran bahasa Inggris pada siswa itu sudah mulai dibimtek,” ujarnya, Senin (7/9).
Menurut Tamrin, kesiapan guru menjadi bagian penting dalam penerapan pembelajaran bahasa asing. Kebijakan tersebut tidak cukup hanya dengan memasukkan mata pelajaran ke dalam proses pembelajaran, tetapi juga harus didukung tenaga pengajar yang memiliki kemampuan sesuai dengan materi yang diberikan.
Sementara itu, untuk wacana pembelajaran bahasa asing lainnya, termasuk bahasa Mandarin dan bahasa Prancis, pihaknya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari pemerintah pusat.
“Sementara untuk wacana pembelajaran bahasa asing lainnya, termasuk bahasa Mandarin dan bahasa Prancis, kami masih menunggu instruksi lebih lanjut. Hingga saat ini belum ada tindak lanjut resmi berupa surat dari kementerian yang menjadi dasar bagi daerah untuk menerapkannya,” bebernya.
Meski belum menjadi program utama, Tamrin menyebut pihaknya terbuka apabila nantinya terdapat tenaga pengajar asing maupun relawan yang memiliki kemampuan bahasa tertentu dan bersedia mengajar di Tarakan.
“Mana tahu nanti ada yang mau jadi guru relawan bahasa Mandarin, nah kita welcome saja. Bahasa Prancis, ya,” katanya.
Namun, ia menegaskan pembelajaran bahasa Inggris menjadi fokus yang lebih dahulu dipersiapkan. Selain rencana penerapannya telah diarahkan mulai kelas III SD, persiapan tenaga pendidik juga sudah mulai dilakukan sejak tahun ini.
Di sisi lain, pembelajaran bahasa daerah tetap berjalan di sekolah-sekolah di Tarakan. Salah satunya bahasa Tidung yang telah ditetapkan sebagai muatan lokal mulai jenjang SD hingga sekolah menengah pertama (SMP).
“Kalau itu kan sudah jalan. Dan itu menjadi muatan lokal mulai jenjang SD sampai SMP,” jelasnya.
Meski telah berjalan, penerapan pembelajaran bahasa Tidung masih menghadapi kendala dari sisi ketersediaan tenaga pengajar. Sekolah selama ini masih mengandalkan guru yang merupakan penutur asli bahasa Tidung untuk memberikan pembelajaran kepada siswa.
“Cuma memang kendalanya kita masih memanfaatkan guru-guru yang penutur asli. Karena kan tidak ada guru yang memang spesial mendapatkan ijazah bahasa daerah, misalnya seperti di Jawa,” ungkapnya.
Tamrin menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Disdik Tarakan. Sebab, belum tersedia guru yang secara khusus memiliki latar belakang pendidikan atau ijazah di bidang bahasa daerah.
Berbeda dengan sejumlah daerah di Pulau Jawa yang memiliki program pendidikan bahasa daerah, sehingga kebutuhan guru dapat lebih mudah dipenuhi melalui jalur pendidikan formal.
“Apalagi untuk mendapatkan guru berstatus aparatur sipil negara (ASN) diperlukan mekanisme dan kebutuhan formasi yang ditetapkan pemerintah. Sementara tenaga pendidik dengan latar belakang khusus bahasa Tidung juga belum tersedia dalam jumlah yang memadai,” jelasnya.
Karena itu, menurut Tamrin, ke depan diperlukan dukungan dari perguruan tinggi untuk membuka program pendidikan yang berkaitan dengan bahasa daerah.
“Mungkin penting juga kedepannya ada jurusan tentu di perguruan tinggi yang menyediakan program pembelajaran bahasa tradisional. Karena ketersediaan guru yang memiliki kompetensi ini masih jarang,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, Disdik Tarakan kini memprioritaskan persiapan guru bahasa Inggris untuk penerapan tahun depan, sembari tetap menjalankan pembelajaran bahasa Tidung sebagai bagian dari muatan lokal.
“Sehingganya mulai tahun ini itu sudah mulai dibimtek,” terangnya.
Sementara itu, Kepala SD Utama 2 Tarakan, Maksum, sebelumnya juga menyoroti pentingnya kesiapan tenaga pengajar ketika sekolah harus menerapkan pembelajaran bahasa asing.
Menurutnya, pembelajaran bahasa asing tidak cukup hanya mengandalkan buku teks atau hafalan, tetapi harus diikuti dengan praktik penggunaan bahasa secara langsung.
Maksum mengatakan, SD Utama 2 Tarakan sendiri telah mengenalkan bahasa Inggris kepada siswa. Namun, pembelajarannya masih sebatas dasar karena disesuaikan dengan jenjang sekolah dasar.
Ia menilai kemampuan siswa akan sulit berkembang secara signifikan apabila bahasa yang dipelajari tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Belajar berbahasa itu kalau hanya textbook tidak mudah. Diajarin berulang-ulang pun belum tentu ada kemajuan. Tetapi kalau terjun langsung, sesulit apa pun bahasa itu bisa dipahami,” kata Maksum.
Menurutnya, pengalaman pembelajaran bahasa Inggris di sekolah menunjukkan praktik menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan siswa. Tanpa kesempatan menggunakan bahasa tersebut, materi yang telah dipelajari berpotensi hanya berhenti pada hafalan.
“Kalau bahasa Inggris sudah ada, tapi dasar-dasar saja. Karena di SD memang juga dasar,” terangnya.
Ia juga menilai perkembangan kemampuan bahasa Inggris siswa belum terlalu signifikan karena minimnya praktik di luar kegiatan pembelajaran.
“Tidak seberapa signifikan perkembangannya karena tidak ada prakteknya. Paling hanya menghafal, setelah itu lupa lagi karena tidak dipakai,” pungkasnya.(*)











Discussion about this post