TARAKAN – Dalam upaya memperkuat kapasitas penyampaian informasi dan edukasi terkait program pelestarian pesisir, SPEAK Indonesia menggelar Pelatihan Strategi Komunikasi (Strakom) dan Pembekalan Toolkit Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) Kalimantan Utara.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (3–4 Oktober 2026), tersebut digelar di Hotel Duta, Kota Tarakan. Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus panduan praktis kepada para pemangku kepentingan di lapangan dalam menyusun dan menyampaikan pesan-pesan utama program secara efektif.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber lintas sektor, di antaranya Wakil Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT), Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tarakan, akademisi UBT, serta tim fasilitator Subnas M4CR Kaltara.
Materi yang diberikan meliputi teknik komunikasi publik, etika jurnalistik, analisis media, hingga pemanfaatan toolkit komunikasi. Pembekalan tersebut diharapkan dapat membantu peserta menyampaikan pesan mengenai pentingnya pelestarian mangrove secara tepat sasaran kepada masyarakat pesisir.
Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari pendamping desa, koordinator lapangan (kolap) M4CR, wartawan atau insan pers, serta perwakilan NGO lokal di Kalimantan Utara. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara pengawal program di lapangan, penggerak komunitas, dan media.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik serta keterampilan praktis dalam menyusun narasi publik, mengelola media komunikasi, dan menggunakan toolkit Strakom M4CR. Dengan demikian, kerja-kerja restorasi mangrove dapat dipublikasikan secara lebih transparan, edukatif, dan partisipatif.
Stakeholder Engagement (SE) SPEAK Indonesia Kaltara, Riskiyanto, mengatakan pembekalan yang diberikan selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan secara langsung dalam kegiatan pendampingan di lapangan.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap para peserta, khususnya pendamping desa, tim lapangan, NGO, dan rekan-rekan wartawan, dapat menjadi jembatan informasi yang efektif. Toolkit dan strategi komunikasi yang telah dibekalkan hendaknya menjadi instrumen kerja harian untuk menyuarakan pentingnya kelestarian ekosistem mangrove secara lebih terstruktur, persuasif, serta berdampak nyata bagi masyarakat pesisir di Kalimantan Utara,” ujar Riskiyanto.(*)











Discussion about this post