TARAKAN – Upaya pemulihan ekosistem pesisir melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara terus menunjukkan perkembangan. Hingga 2026, rehabilitasi mangrove telah mencapai sekitar 10.900 hektare atau 77,9 persen dari target 14.000 hektare yang ditetapkan untuk periode 2024–2027.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara Tahun 2026, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil pelaksanaan program rehabilitasi yang dilakukan secara bertahap. Saat ini, tim M4CR juga tengah mempersiapkan rencana kerja untuk melanjutkan kegiatan rehabilitasi pada tahap berikutnya.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Media Gathering M4CR Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2026, Senin (2/11/2026).
“Dari target sekitar 14.000 hektare untuk periode 2024 sampai 2027, saat ini realisasinya sudah mencapai sekitar 10.900 hektare,” ujar Akhmad.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, M4CR telah menyiapkan rencana rehabilitasi tambahan seluas 800 hektare. Selain itu, terdapat dukungan tambahan sekitar 370 hektare yang juga tengah direncanakan.
Dengan demikian, total luasan tambahan yang disiapkan mencapai sekitar 1.170 hektare. Rencana tersebut diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan rehabilitasi sekaligus mendukung pencapaian target program hingga 2027.
“Ke depan masih ada penyusunan rencana kerja. Saat ini sudah disiapkan sekitar 800 hektare dan rencananya akan mendapat dukungan tambahan 370 hektare,” jelasnya.
Dengan realisasi 10.900 hektare, masih terdapat sekitar 3.100 hektare dari target keseluruhan yang perlu dipenuhi. Karena itu, pelaksanaan rehabilitasi akan terus dilanjutkan melalui tahapan dan perencanaan yang telah disiapkan.
Selain rehabilitasi mangrove, program M4CR juga mendorong penerapan konsep silvofishery atau sistem pengelolaan tambak yang mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan dengan pelestarian ekosistem mangrove.
Menurut Akhmad, penerapan konsep tersebut berpotensi memberikan manfaat dari sisi lingkungan maupun ekonomi masyarakat. Namun, dampak nyata penerapannya masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.
Ia menyebutkan, informasi yang tersedia sejauh ini masih banyak berasal dari pengalaman kelompok masyarakat di sejumlah daerah. Karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam untuk memastikan manfaat dan efektivitas penerapan silvofishery.
“Untuk silvofishery, memang masih perlu dilakukan riset lebih lanjut untuk melihat hasil nyatanya. Saat ini informasi mengenai dampaknya masih berdasarkan pengalaman kelompok-kelompok di daerah. Jadi, hal itu perlu dikonfirmasi lagi melalui penelitian,” katanya.
Penelitian tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran terukur mengenai dampak penerapan silvofishery, baik terhadap kelestarian lingkungan maupun peningkatan sosial ekonomi masyarakat pesisir.
“Kami ingin melihat hasil nyatanya, baik dari aspek lingkungan maupun sosial ekonomi masyarakat, sehingga penerapannya bisa dinilai berdasarkan kajian yang lebih jelas,” tegasnya. (*)












Discussion about this post