KALIMANTAN UTARA – Komoditas udang asal Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki peluang untuk terus memperluas pasar hingga ke mancanegara. Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang kini berupaya memfasilitasi kelompok masyarakat pesisir agar mampu mengakses pasar ekspor secara lebih luas.
Coastal Enterprise Coordinator M4CR, Nugroho Sulistyo, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan program, produksi kelompok masyarakat binaan mengalami peningkatan cukup signifikan. Kenaikannya berkisar tiga hingga lima kali lipat dibandingkan sebelum program berjalan, dengan rata-rata peningkatan sekitar lima kali lipat.
Meski demikian, peningkatan tersebut sejauh ini lebih terlihat dari sisi volume produksi. Sementara dampaknya terhadap nilai ekonomi atau pendapatan masyarakat masih memerlukan penghitungan lebih lanjut karena harga komoditas perikanan mengalami fluktuasi.
“Untuk perbandingan sebelum dan sesudah program, peningkatan yang baru bisa kami lihat adalah dari sisi produksi, belum pada peningkatan nilai tambah dalam rupiah. Sebab, kenaikan produksi tidak selalu berbanding lurus dengan nilai pendapatan karena harga komoditas bisa berubah,” ujar Nugroho saat menjadi narasumber dalam Media Gathering M4CR Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2026, Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, potensi perdagangan hasil perikanan Kaltara ke luar negeri sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Bahkan, sejumlah masyarakat sudah melakukan aktivitas ekspor secara tradisional, khususnya untuk komoditas udang yang memiliki pasar tersendiri di luar negeri.
Menurutnya, udang asal Kaltara mempunyai nilai tambah karena dikenal oleh pasar internasional sebagai produk budidaya dengan penggunaan pakan relatif sedikit. Karakteristik tersebut menjadi salah satu keunggulan yang membuat komoditas udang daerah ini diminati pasar luar negeri.
“Sejak sebelum M4CR, hasil perikanan seperti udang memang sudah dipasarkan ke luar negeri. Udang dari Kaltara dikenal dan disukai pasar luar negeri karena dianggap sebagai udang organik, dengan penggunaan pakan yang tidak terlalu banyak. Ini merupakan nilai tambah bagi produk kita,” jelasnya.
Kendati demikian, M4CR masih berupaya memperluas kesempatan kelompok masyarakat binaan untuk menembus pasar internasional. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menginventarisasi kelompok-kelompok yang dinilai memiliki potensi untuk difasilitasi dalam kegiatan ekspor.
Nugroho mengakui, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam membangun koneksi antara kelompok masyarakat dengan perusahaan eksportir. Salah satu tantangannya adalah sebagian kelompok binaan telah memiliki badan usaha atau perusahaan sendiri sehingga membutuhkan pola kerja sama yang sesuai.
“Kami pernah mencoba menginventarisasi kelompok binaan yang bisa difasilitasi untuk ekspor. Namun, ada beberapa hambatan yang membuat upaya tersebut belum terlaksana. Kami terus mencoba membangun kerja sama dengan beberapa perusahaan eksportir,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan perusahaan yang dimiliki kelompok masyarakat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses penjajakan kemitraan. Meski demikian, M4CR tetap berupaya mencari peluang kerja sama agar hasil produksi masyarakat pesisir dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Sebagian kelompok sudah memiliki perusahaan sendiri. Ini terkadang membuat proses mengarahkan mereka untuk bekerja sama dengan perusahaan eksportir menjadi lebih sulit. Namun, upaya fasilitasi tersebut tetap kami lakukan,” tandasnya.
Melalui upaya tersebut, M4CR diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan kapasitas produksi masyarakat pesisir, tetapi juga membuka peluang pemasaran yang lebih luas sehingga potensi komoditas perikanan Kaltara dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat.(*)











Discussion about this post