TANA TIDUNG – Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) memberikan dampak positif terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir Kalimantan Utara. Melalui bantuan peralatan, pendampingan, serta dukungan pemasaran, kelompok masyarakat mulai mengembangkan berbagai produk lokal hingga menjangkau pasar luar daerah, Selasa (03/11/2026).
Hal tersebut terungkap dalam diskusi bersama kelompok masyarakat penerima manfaat program M4CR pada hari kedua kegiatan Media Gathering M4CR di Kalimantan Utara. Kegiatan berlangsung di Rumah Adat Desa Sambungan, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung.
Ketua Kelompok Inggilad Taka, Desa Tengku Dacing, Mita, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran program M4CR. Menurutnya, program tersebut tidak hanya memberikan bantuan peralatan, tetapi juga membuka peluang bagi anggota kelompok, khususnya kaum perempuan, untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Ia menceritakan, sebelum mendapatkan pendampingan M4CR, kelompoknya masih berusaha secara mandiri. Kondisi tersebut membuat semangat sebagian anggota kelompok menurun karena belum mendapatkan hasil dari kegiatan produksi.
Namun, melalui dukungan matching grant dan pendampingan yang diberikan, semangat anggota kelompok kembali tumbuh. Mereka kini lebih aktif mengembangkan produk kerajinan maupun olahan pangan.
“Dengan adanya bantuan M4CR, kami sangat terbantu. Sebelumnya kami masih berdiri sendiri, kadang ada ibu-ibu yang tidak mau bekerja karena tidak mendapatkan penghasilan. Sekarang semangat mereka tumbuh kembali karena bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” ujar Mita.
Salah satu bantuan yang diterima kelompoknya berupa mesin 3 in 1 untuk mendukung pengembangan produk. Peralatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menciptakan produk-produk baru sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Dari sisi pemasaran, produk kerajinan kipas batik khas Kabupaten Tana Tidung yang dihasilkan kelompoknya bahkan telah menjangkau sejumlah daerah, mulai dari Tarakan hingga Bali melalui fasilitasi pemasaran program M4CR.
Selain kipas batik, kelompok Inggilad Taka juga mengembangkan sejumlah produk lainnya, seperti Virgin Coconut Oil (VCO), nata de coco, serundeng, sambal belondo, hingga berbagai produk olahan lokal.
Meski demikian, Mita mengakui kondisi geografis Desa Tengku Dacing yang cukup sulit dijangkau menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pemasaran. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat kelompok untuk terus mengembangkan usaha.
Ia juga berharap pendampingan M4CR dapat terus berlanjut. Jika program berakhir, kelompok masyarakat diharapkan tetap mampu mengembangkan usaha secara mandiri berdasarkan pengetahuan dan fasilitas yang telah diberikan.
“Harapan kami, apa yang sudah diberikan M4CR bisa terus kami kembangkan. Jangan sampai ketika programnya berhenti, kelompok kami juga ikut berhenti. Kami ingin terus berkembang ke depannya,” ungkapnya.
Harapan serupa disampaikan Anas Tahir dari Kelompok Masyarakat Tunas Abadi Jaya. Ia menilai pendampingan masih sangat dibutuhkan, terutama bagi kelompok yang baru memulai kegiatan usaha dan masih dalam tahap belajar.
Menurutnya, keberlanjutan pendampingan penting agar kelompok masyarakat dapat memahami teknik pengembangan usaha dan mampu mempertahankan hasil program dalam jangka panjang.
“Kami masih baru dan pertama kali mencoba. Ketika baru belajar, kalau langsung ditinggalkan, kami khawatir tidak tahu bagaimana melanjutkannya. Harapannya M4CR tetap berlanjut agar ada pendampingan terkait keberlanjutan usaha,” tuturnya.
Melalui diskusi tersebut, kelompok masyarakat berharap berbagai bantuan dan pendampingan M4CR tidak hanya memberikan manfaat selama program berlangsung, tetapi juga menjadi fondasi bagi tumbuhnya usaha produktif masyarakat pesisir secara berkelanjutan.(*)













Discussion about this post