TARAKAN – Dinas Pendidikan Kota Tarakan mendorong keterlibatan orang tua dalam penerapan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat melalui SiGanak Hibot. Program ini tidak hanya menjadi sarana pemantauan kebiasaan siswa di sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga untuk memastikan pembentukan karakter anak berlangsung secara konsisten di rumah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, S.T., M.Sc., mengatakan orang tua dapat ikut mengisi SiGanak Hibot bersama anak, terutama bagi siswa usia dini atau kelas rendah yang masih membutuhkan pendampingan. Keterlibatan tersebut penting karena sejumlah kebiasaan berlangsung di lingkungan rumah dan lebih mudah dipantau oleh keluarga.
Menurut Tamrin, kebiasaan seperti tidur lebih awal, bangun pagi, beribadah, hingga mengonsumsi makanan bergizi membutuhkan peran aktif orang tua. Sementara itu, guru berperan mendampingi siswa selama berada di sekolah. Dengan demikian, pembiasaan positif dapat berjalan berkesinambungan di kedua lingkungan tersebut.
“Anak boleh mengisi, orang tua juga boleh. Untuk anak-anak yang masih kecil, orang tua tentu bisa mendampingi. Karena ada kebiasaan yang dilakukan di rumah, jadi orang tua yang lebih mengetahui,” kata Tamrin.
Ia mencontohkan, kebiasaan tidur lebih awal dan bangun pagi tidak dapat sepenuhnya diawasi oleh guru. Begitu pula dengan pembiasaan beribadah dan pemenuhan makanan bergizi yang memerlukan perhatian keluarga. Meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah tersedia di sekolah, orang tua tetap memiliki tanggung jawab dalam memperhatikan asupan anak di rumah.
Tamrin menegaskan, SiGanak Hibot tidak sekadar digunakan untuk mencatat kebiasaan peserta didik. Hal yang lebih penting adalah memastikan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Karena itu, ia berharap orang tua dan sekolah dapat membangun pola pendampingan yang sejalan. Kebiasaan positif yang ditanamkan di sekolah diharapkan dapat dilanjutkan di rumah secara konsisten sehingga tumbuh menjadi rutinitas dan membentuk karakter anak.
“Sekolah dan orang tua harus berjalan bersama. Apa yang dibiasakan di sekolah bisa dilanjutkan di rumah. Kalau dilakukan terus-menerus, kebiasaan positif itu bisa menjadi budaya dan kemudian membentuk karakter anak,” bebernya.(*)













Discussion about this post