SB, NUNUKAN – Tangis haru pecah di perbatasan RI-Malaysia. Setelah delapan dekade hidup dalam kegelapan, warga Lumbis Hulu akhirnya bisa merasakan terangnya listrik. Kamis (21/8) malam menjadi momen bersejarah: lampu-lampu menyala serentak, menggantikan remang lampu minyak yang selama ini setia menemani.
Suasana malam itu pecah dengan haru dan sukacita. Tawa dan air mata bahagia bercampur saat lampu-lampu serentak menyala, mengakhiri penantian panjang sejak Indonesia merdeka.
Camat Lumbis Hulu, Justinus, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Baginya, ini bukan sekadar penyalaan listrik, tapi juga obor harapan bagi masa depan.
“Malam ini, bukan hanya lampu yang menyala, tapi juga harapan kami untuk anak cucu,” ucap Justinus dengan mata berkaca-kaca.
Bayangkan, selama puluhan tahun, anak-anak Lumbis Hulu harus berjuang belajar di bawah cahaya remang. Ekonomi pun sulit berkembang karena akses informasi terbatas.
Namun, kini semua berubah. Listrik hadir membawa secercah harapan, membuka isolasi yang selama ini membelenggu. Warga pun larut dalam kebahagiaan, menggelar syukuran dan menikmati malam yang terang benderang.
“Cahaya listrik ini adalah simbol kemerdekaan yang sesungguhnya bagi kami,” ungkap Justinus.
Justinus optimis, dengan hadirnya listrik, potensi Lumbis Hulu akan berkembang pesat. Pendidikan akan maju, ekonomi menggeliat, dan Lumbis Hulu siap bersaing dengan daerah lain di Indonesia.
“Kami yakin, Lumbis Hulu akan bangkit dan sejajar dengan daerah lain,” tegasnya.
Pemerintah pun berharap, kehadiran listrik ini menjadi tonggak sejarah pembangunan di wilayah perbatasan. Lumbis Hulu tak hanya keluar dari keterbelakangan, tapi juga menjadi garda depan kemajuan di perbatasan RI-Malaysia. (dln)
Discussion about this post