SB, NUNUKAN – Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Nunukan makin mengkhawatirkan. Setiap hari, 15-20 ton sampah dihasilkan, namun hanya 30 persen yang berhasil diolah. Sisanya menumpuk di TPA. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan mendorong masyarakat lebih giat mengolah sampah, mulai dari bank sampah hingga komposter.
Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berupaya keras mengurangi sampah yang dibuang ke Tempat Pembungan Akhir (TPA). Caranya, dengan menggiatkan daur ulang sampah di tingkat masyarakat.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nunukan ingin mengurangi ketergantungan pada TPA. Mereka mendorong masyarakat mengolah sampah melalui bank sampah dan komposter.
“Sampah diolah dulu, baru sisanya ke TPA. Kami harap, makin banyak sampah yang bisa diolah,” kata Muhammad Irfan, Kabid Pengelolaan Persampahan DLH Nunukan.
Salah satunya, sampah plastik diubah jadi paving block, pelampung, dan kompos. Bank sampah seperti Bank Sampah Unit Karya Bersama dan Borneo Bersinar aktif dalam program ini.
“Hampir semua plastik bisa jadi paving block. Di Lapas Nunukan, mereka sudah buat paving dan kompos,” ujar Irfan.
Dikatakan, selain mengurangi sampah, daur ulang membuka peluang usaha. Sampah plastik diolah jadi barang yang berguna dan bisa dijual.
Hanya saja, aku Irfan, bank sampah masih kekurangan alat pengolahan. Ia berharap bantuan dari perusahaan melalui program CSR.
“Beberapa perusahaan sudah bantu mesin press dan cetakan paving block. Tapi, masih banyak alat yang dibutuhkan,” katanya.
DLH Nunukan yakin, pengelolaan sampah di tingkat masyarakat adalah kunci. Dengan cara ini, TPA tidak cepat penuh dan masalah sampah bisa diatasi.
“Semua sampah diolah dulu di bank sampah, baru sisanya ke TPA. Ini cara agar TPA tidak cepat penuh,” tutup Irfan. (dln)
Discussion about this post