TARAKAN– Polres Tarakan mengikuti kegiatan penelitian *Rekonstruksi Model Pemolisian Berbasis Manajemen Risiko dalam Penanganan Bencana dalam Perspektif Hukum yang dilaksanakan oleh tim penelitian STIK pada Rabu, 2 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WITA tersebut digelar di Ruang Data Polres Tarakan dan dihadiri Ketua Tim Penelitian Kombespol Dr. Tagor Hutapea, S.I.K., M.Si., beserta tim, Kapolres Tarakan AKBP Bonifasius Rumbewas, S.I.K., Wakapolres Tarakan, para Kabag, Kasat, Kasi dan pejabat utama Polres Tarakan.
Turut hadir sejumlah pemangku kepentingan terkait, di antaranya Lurah Karang Balik beserta staf, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Tarakan, Dinas Lingkungan Hidup, tokoh masyarakat Buddha, Senkom Provinsi Kalimantan Utara, serta perwakilan pemerhati lingkungan Kota Tarakan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, pembacaan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Kapolres Tarakan dan sambutan Ketua Tim Penelitian. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan buku dari tim penelitian kepada Kapolres Tarakan yang dilanjutkan dengan penyerahan plakat dari Kapolres Tarakan kepada tim penelitian.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan foto bersama, pengantar Focus Group Discussion (FGD), selayang pandang Polres Tarakan, serta forum diskusi yang melibatkan peserta dari internal Polres Tarakan maupun instansi dan unsur masyarakat terkait.
Dalam penelitian tersebut, tim STIK melakukan pengumpulan data untuk mengkaji pelaksanaan tugas Kepolisian dalam menghadapi bencana sekaligus merumuskan model tindakan Kepolisian yang dapat menjadi acuan dalam upaya penanganan dan mitigasi bencana.
Melalui forum diskusi, tim penelitian menekankan pentingnya pendekatan berbasis manajemen risiko, khususnya dalam aspek mitigasi, kesiapsiagaan, edukasi kepada masyarakat, serta kejelasan pembagian tugas antarinstansi. Sinergi antara Kepolisian, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, masyarakat dan instansi terkait dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas penanganan bencana.
Selain itu, turut dibahas perlunya evaluasi terhadap keberadaan dan fungsi kelompok masyarakat, seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), serta kesiapan sarana dan prasarana pemadam kebakaran. Hal tersebut diharapkan dapat mendukung respons yang lebih cepat dan terkoordinasi ketika terjadi bencana.
Penelitian ini diharapkan mampu mengidentifikasi kondisi, kendala, pengalaman serta kebutuhan di lapangan, sehingga dapat dirumuskan model pemolisian yang lebih efektif dan adaptif dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Dengan adanya penelitian tersebut, penanganan bencana diharapkan tidak hanya berorientasi pada tindakan reaktif setelah bencana terjadi, tetapi juga mengedepankan upaya mitigasi, kesiapsiagaan, edukasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 11.00 WITA dan selama pelaksanaan berlangsung situasi aman dan terkendali.(*)











Discussion about this post