TARAKAN – Menggabungkan budidaya perikanan dengan pelestarian lingkungan menjadi langkah yang ditempuh kelompok nelayan di Pulau Mangkasak, Desa Tana Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung. Melalui penerapan sistem silvofishery atau tambak ramah lingkungan, para petambak berupaya menjaga produktivitas usaha sekaligus mempertahankan ekosistem mangrove di kawasan pesisir.
Model budidaya tersebut menjadi salah satu upaya menghadapi berbagai tantangan yang selama ini membayangi usaha tambak, mulai dari serangan penyakit, perubahan cuaca hingga gangguan predator. Kondisi tersebut kerap menyebabkan hasil panen tidak menentu, bahkan berujung pada kegagalan produksi.
Bendahara Kelompok Nelayan Mekar Abadi, Ediyanto, mengatakan kelompoknya mengembangkan sistem tersebut di kawasan seluas 133 hektare. Sejak 2024, mereka telah menanam sebanyak 106.400 bibit mangrove jenis Rhizophora sp. dengan menggunakan pola empang parit terbuka.
Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove di kawasan tambak tersebut mencapai 86 persen. Capaian ini menjadi salah satu indikator keberhasilan upaya mengintegrasikan kegiatan ekonomi masyarakat dengan pemulihan lingkungan pesisir.
Dalam menjalankan usaha budidaya, kelompok nelayan Mekar Abadi mampu melakukan panen hingga empat kali dalam setahun. Setiap siklusnya, jumlah benih yang ditebar berkisar 300 ribu hingga 500 ribu ekor.
Meski demikian, besarnya kapasitas produksi belum menjamin hasil panen yang optimal. Ediyanto mengungkapkan, kelompoknya beberapa kali mengalami kerugian akibat serangan penyakit yang menyebabkan tingkat kelangsungan hidup udang menurun drastis.
Bahkan, kegagalan panen pernah terjadi hingga dua sampai tiga kali. Dalam kondisi tertentu, tingkat kelangsungan hidup udang hanya berada di kisaran 40 persen.
“Kalau budidaya ini memang tidak selalu bisa dipastikan hasilnya. Kami pernah mengalami gagal panen sampai dua hingga tiga kali karena serangan penyakit. Tingkat kelangsungan hidup udang juga kadang hanya sekitar 40 persen,” ungkapnya.
Selain faktor lingkungan dan penyakit, persoalan permodalan juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk pengembangan tambak dengan luasan sekitar 26 hektare, kebutuhan investasi awal diperkirakan mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta. Sementara biaya operasional harus tetap dipenuhi tanpa kepastian hasil produksi.
Ketika kondisi budidaya berjalan baik, kelompok tersebut dapat menghasilkan sekitar 300 kilogram dalam satu kali panen. Hasilnya kemudian dipasarkan melalui pengepul lokal dengan harga berkisar Rp105 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.
“Untuk satu kali tebar, bibit yang digunakan bisa mencapai 300 ribu sampai 500 ribu ekor. Tetapi hasil akhirnya bergantung pada kondisi tambak. Kalau terserang penyakit atau cuaca tidak mendukung, risiko kerugian juga besar,” jelas Ediyanto.
Di tengah ketidakpastian tersebut, penanaman mangrove memberikan manfaat tambahan bagi kawasan tambak. Selain mendukung keberlangsungan ekosistem pesisir, keberadaan tanaman ini juga berperan sebagai pelindung alami yang membantu menjaga struktur atau dinding tambak dari pengaruh lingkungan sekitar.
Penerapan silvofishery pun menjadi upaya Kelompok Nelayan Mekar Abadi untuk membangun pola usaha perikanan yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, aktivitas budidaya diharapkan dapat terus berjalan tanpa mengabaikan keberadaan mangrove sebagai penyangga kawasan pesisir.(*)











Discussion about this post