TARAKAN – Upaya pemulihan ekosistem pesisir melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Utara (Kaltara) terus menunjukkan perkembangan. Hingga November 2026, rehabilitasi mangrove telah mencapai sekitar 10.900 hektare atau hampir 78 persen dari target keseluruhan seluas 14.000 hektare.
Capaian tersebut tersebar di tiga kabupaten, yakni Bulungan, Tana Tidung, dan Nunukan. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 3.100 hektare yang perlu dituntaskan untuk memenuhi target rehabilitasi yang telah ditetapkan.
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan capaian tersebut merupakan akumulasi kegiatan penanaman sejak 2024 hingga saat ini.
Pada 2024, penanaman mangrove telah mencapai sekitar 6.500 hektare. Sementara capaian kegiatan berikutnya bertambah sekitar 4.400 hektare.
“Untuk saat ini kita sudah di 10.900. Sebanyak 6.500 di tahun 2024 dan sekarang sekitar 4.400-an,” ujar Akhmad, Selasa (3/11/2026).
Untuk mengejar target tersebut, M4CR masih menyiapkan sekitar 1.100 hektare rencana kegiatan yang diharapkan dapat direalisasikan tahun ini. Meski 2026 diproyeksikan menjadi tahap terakhir penanaman dalam rencana yang telah disusun, program M4CR masih akan berlanjut melalui kegiatan pemeliharaan pada tahun berikutnya.
Akhmad menegaskan, penyelesaian kegiatan penanaman bukan berarti seluruh rangkaian program langsung berakhir. Pemeliharaan tetap diperlukan untuk memastikan tanaman mangrove dapat tumbuh dengan baik.
“Jadi bukan berarti setelah kita tanam tahun ini kita selesaikan. Tidak, nanti tahun depan kita ada pemeliharaan. Tapi akan ada lagi usulan untuk penanaman. Kita tetap coba mencari peluang kalau memang bisa dieksekusi 2026, harapannya bisa dilaksanakan lagi,” jelasnya.
Di sisi lain, pelaksanaan rehabilitasi mangrove masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Kondisi perairan yang terlalu dalam hingga gangguan pertumbuhan akibat lumut menjadi beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan tanaman di sejumlah lokasi.
Terhadap tanaman yang pertumbuhannya kurang optimal, kelompok masyarakat didorong melakukan penanaman ulang secara swadaya. Langkah tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu mengevaluasi kondisi lokasi agar kegagalan serupa tidak kembali terjadi.
Apabila kedalaman air menjadi penyebab utama, lokasi penanaman dapat digeser ke area yang lebih sesuai. Begitu pula jika ditemukan gangguan pertumbuhan akibat lumut, pola dan teknis penanaman perlu disesuaikan.
“Untuk yang kurang bagus ini kita upayakan kelompok menanam kembali secara swadaya dengan mempertimbangkan hasil evaluasi. Kalau memang di situ karena airnya dalam, kita akan bergeser sedikit ke yang airnya lebih tinggi,” ungkapnya.
Khusus rehabilitasi mangrove di kawasan tambak, M4CR juga memberikan keleluasaan dalam menentukan pola penanaman. Metode yang diterapkan dapat berupa penanaman di sepanjang sisi tambak, bagian tengah pelataran, maupun pola lajur dengan jarak tanam tertentu.
Pemilihan pola tersebut mempertimbangkan karakteristik lahan serta kesepakatan dengan pemilik tambak. Dengan demikian, keberadaan mangrove tetap dapat dikembangkan tanpa menghambat aktivitas budidaya perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Hal serupa juga berlaku dalam pemilihan jenis mangrove. Menurut Akhmad, jenis tanaman sebaiknya disesuaikan dengan vegetasi alami yang telah tumbuh di sekitar kawasan rehabilitasi.
Kawasan yang didominasi Avicennia dapat menggunakan jenis serupa, begitu pula wilayah yang secara alami didominasi Rhizophora. Namun, pada kawasan tambak, karakteristik perakaran juga harus menjadi pertimbangan agar tidak mengganggu ruang gerak dan aktivitas petambak.
Selain mengejar target rehabilitasi, M4CR turut memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat mangrove, terutama bagi petambak yang masih meragukan keberadaan tanaman tersebut di area budidaya.
Salah satu pendekatan yang dilakukan melalui sekolah lapang dengan melibatkan petambak yang telah berhasil menerapkan sistem silvofishery, yakni pola budidaya perikanan yang memadukan kegiatan tambak dengan keberadaan ekosistem mangrove.
Petambak yang telah memiliki pengalaman dan keberhasilan dalam menerapkan pola tersebut akan dilibatkan untuk berbagi pengetahuan secara langsung kepada kelompok masyarakat lainnya.
“Kalau ada sekolah lapang, biasanya kita libatkan juga teman-teman yang sudah berhasil. Mereka kita bawa ke sekolah lapang supaya dari mereka juga yang menyampaikan, bukan hanya dari kami,” katanya.
Akhmad menilai, edukasi melalui sesama petambak lebih mudah diterima karena masyarakat dapat mendengar langsung pengalaman dari pelaku yang telah menerapkan sistem tersebut di lapangan.
Dari sisi lingkungan, mangrove juga dinilai memiliki peran dalam menjaga kualitas air di kawasan tambak. Sejumlah penelitian akademis menunjukkan daun mangrove berpotensi membantu menjaga kualitas air sehingga mendukung kesehatan udang yang dibudidayakan.
Kendati demikian, manfaat tersebut belum bisa langsung dikaitkan dengan peningkatan produktivitas hasil panen. Menurutnya, diperlukan kajian dan pengujian lebih lanjut untuk memastikan sejauh mana keberadaan mangrove berpengaruh terhadap jumlah produksi tambak.
“Secara akademis memang sudah ada beberapa penelitian bahwa daun mangrove itu bisa menjaga kualitas air. Jadi udangnya lebih sehat. Kalau untuk produktivitas, itu masih perlu dicek lagi. Cuma kalau udangnya sehat, insyaallah produksinya baik,” pungkasnya.
Melalui rehabilitasi yang dibarengi edukasi dan pengembangan sistem silvofishery, M4CR diharapkan mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan. Tidak hanya memulihkan ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kaltara, tetapi juga menjaga keberlangsungan usaha tambak dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keseimbangan lingkungan dan ekonomi.(*)











Discussion about this post