Tarakan – Rencana pembangunan jembatan permanen melalui betonisasi di RT 10 Binalatung, Kelurahan Pantai Amal, dipastikan belum dapat direalisasikan pada tahun 2026. Keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama di tengah kebijakan pemotongan transfer ke daerah (TKD).
Anggota Komisi III DPRD Tarakan, Asrin R Saleh, menjelaskan bahwa fokus pembangunan infrastruktur saat ini dialihkan pada lanjutan pengerjaan jalan lingkungan yang dinilai lebih memungkinkan secara anggaran.
“Untuk jembatan permanen memang belum bisa kita dorong tahun ini karena kebutuhan anggarannya cukup besar, sekitar Rp3 miliar. Sementara kondisi fiskal daerah sedang berat,” ujarnya.
Meski pembangunan jembatan ditunda, DPRD memastikan kegiatan infrastruktur di wilayah RT 10 Binalatung tetap berjalan. Salah satu proyek yang tengah dilanjutkan adalah semenisasi jalan lingkungan yang sebelumnya telah dikerjakan.
Menurut Asrin, pada tahun anggaran 2026, proyek lanjutan jalan tersebut kembali mendapatkan alokasi sekitar Rp100 juta dalam satu paket pekerjaan untuk penyambungan akses jalan.
“Alhamdulillah jalan lingkungan masih berjalan. Yang lanjutan di RT 10 itu masuk sekitar Rp100 juta,” katanya.
Ia menambahkan, proyek tersebut kini telah memasuki tahap pelaksanaan setelah melalui proses pengukuran oleh konsultan serta penunjukan pelaksana melalui mekanisme penunjukan langsung.
Namun demikian, anggaran yang tersedia dinilai belum mencukupi untuk merealisasikan pembangunan jembatan permanen yang menjadi kebutuhan utama masyarakat setempat. Usulan pembangunan jembatan sebelumnya telah diajukan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD, tetapi belum dapat terakomodasi karena besarnya kebutuhan biaya.
“Kami sudah sampaikan melalui pokir, tapi belum bisa masuk karena anggarannya besar, apalagi ada pemotongan TKD,” jelasnya.
Sebagai solusi sementara, pemerintah hanya melakukan pekerjaan penyesuaian atau sambungan akses di sekitar jembatan yang ada, bukan pembangunan ulang secara permanen.
Di sisi lain, kebutuhan betonisasi jembatan tersebut terus disuarakan warga. Jembatan yang saat ini masih berbahan kayu dinilai sudah tidak layak, dengan kondisi lapuk dan berlubang akibat penggunaan selama beberapa tahun terakhir.
Warga berharap pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan, mengingat perannya yang vital sebagai akses utama, khususnya bagi para pekerja rumput laut untuk mempercepat distribusi hasil panen.
DPRD Tarakan pun memastikan akan terus mengawal aspirasi tersebut agar dapat diperjuangkan kembali pada tahun anggaran berikutnya.
“Ini tetap jadi perhatian kami. Mudah-mudahan tahun depan bisa kita dorong kembali agar jembatan ini dibangun permanen,” pungkas Asrin.(*)











Discussion about this post