TARAKAN — Gabungan tiga kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Kalimantan Utara pada Maret 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,57 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,47 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Kaltara tercatat sebesar 3,12 persen (year-on-year/yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional.
Kenaikan inflasi pada Maret 2026 terutama didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Transportasi. Komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni cabai rawit dengan andil 0,24 persen, daging ayam ras 0,13 persen, angkutan udara 0,10 persen, ikan bandeng 0,05 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,05 persen.
Peningkatan harga cabai rawit dipicu tingginya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri dan terbatasnya pasokan di sejumlah sentra produksi. Sementara kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi penyesuaian harga pedagang seiring meningkatnya ekspektasi permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri.
Adapun tarif angkutan udara meningkat akibat tingginya mobilitas masyarakat pada masa libur Lebaran.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi, terutama emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar minus 0,06 persen. Penurunan harga emas dipengaruhi koreksi harga emas global di tengah dinamika geopolitik internasional.
Selain itu, komoditas hortikultura seperti sawi hijau dan kangkung masing-masing mencatat andil minus 0,03 persen, sedangkan bayam minus 0,01 persen. Kondisi tersebut dipicu melimpahnya pasokan lokal pada masa panen dan cuaca yang kondusif.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando G. Manik mengatakan inflasi Kaltara tetap terjaga meskipun masih terdapat risiko tekanan inflasi global maupun domestik.
“TPID Kaltara terus bersinergi menjaga stabilitas harga melalui framework 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif,” ujarnya.
Berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan, antara lain pelaksanaan 220 kegiatan pasar murah di seluruh wilayah Kaltara, penerapan Good Agriculture Practices (GAP) pada komoditas cabai merah, hingga penguatan komunikasi efektif melalui high level meeting dan sidak pasar.
Selain itu, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga mendorong program Fasilitasi Distribusi Pangan melalui MDC-Kios Tarakan Hibot guna menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pangan strategis.(*)












Discussion about this post