TARAKAN – Raut lega terlihat dari wajah Wali Kota Tarakan, Khairul, sesaat setelah kembali menginjakkan kaki di Bumi Paguntaka usai menunaikan ibadah haji selama kurang lebih 40 hari di Tanah Suci.
Didampingi sang istri, Rujiah Khairul, Khairul mengaku bersyukur dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah bersama ribuan jemaah lainnya.
Pada Rabu (17/6/2026) sekitar pukul 15.45 WITA, Khairul bersama istri dan rombongan jemaah haji tiba di Masjid Islamic Center Kota Tarakan.
Selama berada di Tanah Suci, Khairul menegaskan tidak ada perlakuan khusus meski dirinya menjabat sebagai wali kota. Di Makkah dan Madinah, seluruh jemaah memiliki kedudukan yang sama.
Ia menjalani seluruh proses ibadah sebagaimana jemaah reguler lainnya, mulai dari tidur bersama dalam satu kamar, mencuci pakaian sendiri, berjalan kaki menuju Masjidil Haram, hingga menjalani aktivitas harian tanpa fasilitas khusus.
“Alhamdulillah lega. Selama 40 hari saya ikut bersama-sama dengan jemaah reguler dan menikmati seluruh fasilitas yang disiapkan untuk semua jemaah,” ujar Khairul.
Menurut Khairul, pengalaman yang paling membekas selama berhaji adalah tingginya solidaritas antarsesama jemaah, terutama dalam membantu para lansia yang tidak memiliki pendamping.
Ia melihat langsung bagaimana para jemaah saling membantu, termasuk mendorong kursi roda, mendampingi saat beribadah, hingga menggantikan lansia dalam melontar jumrah apabila diperlukan.
Selain itu, para petugas haji, ketua regu, dan pembimbing dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) turut berperan aktif membantu jemaah lanjut usia maupun yang sedang sakit.
Khairul juga mengapresiasi petugas Daerah Kerja (Daker) Makkah yang menurutnya bekerja luar biasa dalam membantu jemaah, khususnya pada masa-masa akhir pelaksanaan ibadah haji.
Khairul mengaku bangga melihat kekompakan jemaah asal Kalimantan Utara yang tergabung dalam Kloter 7 Balikpapan, terdiri dari jemaah asal Tarakan, Bulungan, Nunukan, Tana Tidung, dan Malinau.
Menurutnya, semangat saling membantu dan mendukung menjadi faktor penting sehingga mayoritas jemaah dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan baik.
Meski demikian, ia menyampaikan duka atas wafatnya satu jemaah asal Tarakan yang tidak sempat kembali ke tanah air.
Khairul mengungkapkan beberapa jemaah sempat mengalami gangguan kesehatan selama berada di Tanah Suci. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi mereka menjalankan seluruh rangkaian ibadah wajib haji.
Menurutnya, seluruh jemaah Kloter 7 asal Kalimantan Utara berhasil melaksanakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, serta menjalani prosesi di Mina sesuai kemampuan masing-masing.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah, Khairul mengaku merasakan suasana spiritual yang sangat kuat selama berada di Makkah dan Madinah.
Menurutnya, hampir seluruh jemaah berlomba-lomba memperbanyak ibadah dan meraih keutamaan salat di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram.
Ia juga menyaksikan antusiasme jemaah dalam menyelesaikan Arba’in, yakni 40 kali salat berjamaah di Masjid Nabawi.
“Semangat jemaah luar biasa untuk menyempurnakan Arba’in dan memperbanyak ibadah selama berada di Tanah Suci,” katanya.
Tidak Ada Jabatan di Tanah Suci
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Khairul adalah kehidupan sederhana yang dijalaninya selama berhaji.
Ia menegaskan bahwa status sebagai wali kota tidak memberikan keistimewaan apa pun saat berada di tempat ibadah.
“Tidak ada jabatan di sana. Semua sama. Siapa yang datang lebih dulu, dia yang mendapat tempat lebih baik. Tidak ada privilege,” ujarnya.
Selama di Madinah, ia menempati kamar bersama tujuh jemaah lainnya. Sementara di Makkah, satu kamar ditempati empat orang.
Bahkan, selama hampir sebulan berada di Makkah, ia mencuci pakaiannya sendiri.
“Biasanya setelah salat malam atau selesai salat Subuh saya mencuci. Karena cuacanya panas, pakaian yang dijemur dua jam saja sudah kering,” katanya.
Setelah kembali ke Tarakan, Khairul mengaku siap menjalankan kembali tugas pemerintahan yang ditinggalkannya selama menunaikan ibadah haji.
Ia mengatakan sengaja membatasi komunikasi terkait pekerjaan selama berada di Tanah Suci agar dapat fokus beribadah.
Meski demikian, berbagai persoalan pemerintahan sudah mulai menunggunya setibanya di Tarakan.
“Mulai hari ini kembali bekerja dan kembali ke kehidupan nyata,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Khairul, perjalanan haji selama 40 hari bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima, melainkan sebuah proses pembelajaran spiritual yang diharapkan terus membekas dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya kira ini training selama 40 hari. Mudah-mudahan bisa terus terbawa ke Indonesia, ke Kota Tarakan, dan harapan kita semua bisa menjadi haji yang mabrur,” tutupnya. (*)













Discussion about this post