TARAKAN — Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Utara (Kaltara) pada awal September 2026. Kota Tarakan termasuk wilayah yang diprediksi mengalami hujan pada 2 September.
Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca, kondisi Kaltara pada 31 Agustus secara umum diprediksi cerah.
“Untuk tanggal 31, perkiraan cerah. Kemudian tanggal 1 dan 2, di Kalimantan Utara ada peluang hujan intensitas sedang hingga lebat,” ujar Sulam Khilmi.
Ia menjelaskan, pada 1 September, wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat meliputi Kabupaten Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung.
Sementara pada 2 September, wilayah yang berpotensi diguyur hujan meluas, yakni Nunukan, Malinau, Tana Tidung, dan Kota Tarakan.
“Untuk tanggal 2, Tarakan masuk dalam wilayah yang diprediksi akan mengalami hujan intensitas sedang hingga lebat,” katanya.
Setelah periode tersebut, kondisi cuaca diperkirakan kembali cerah. Pada 3, 4, dan 5 September, sebagian besar wilayah Kaltara diprakirakan mengalami kondisi cerah. Kondisi kering tersebut diperkirakan berlangsung sekitar empat hingga lima hari sebelum prakiraan cuaca kembali diperbarui.
“Setelah itu nanti cerah, agak lama, kurang lebih empat atau lima hari. Kemudian akan kita perbarui lagi perkiraan selama tujuh harian,” jelasnya.
Sulam Khilmi juga mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi periode kering dengan memanfaatkan peluang hujan untuk menampung air. Kondisi kemarau saat ini disebut terjadi di berbagai wilayah Indonesia, meski tingkat dan durasinya berbeda-beda.
“Memang kemarau hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa wilayah saat ini sudah mengalami kemarau, bahkan hari tanpa hujannya lebih dari 60 hari,” ujarnya.
Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, telah mengalami periode tanpa hujan lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut relatif normal karena sejumlah wilayah di kawasan tersebut memiliki pola musim yang lebih tegas, yakni musim hujan dan musim kemarau.
Sementara untuk Tarakan dan wilayah Kalimantan, pola musimnya berbeda. Namun, kondisi cuaca saat ini turut dipengaruhi fenomena El Niño yang cukup kuat.
Menurutnya, kondisi atmosfer yang kering serta keberadaan asap juga dapat memengaruhi proses pembentukan awan.
“Karena ada asap yang menyelimuti, ini juga menghambat pertumbuhan awan-awan. Jadi penguapan air ini tidak maksimal,” pungkasnya.(*)












Discussion about this post