Tarakan– Dinas Sosial memastikan perempuan yang belakangan viral karena terlihat mengemis di jalanan bersama anak dan bayinya bukanlah kasus baru. Yang bersangkutan merupakan klien lama Dinas Sosial yang telah mendapat pendampingan sejak sekitar tahun 2021–2022, saat kepemimpinan Kepala Dinas Sosial masih dijabat oleh Ibu Marian.
Yuanita Priskantari selaku Pendamping Rehabilitasi Sosial Dinsos Tarakan menjelaskan, pada awal pendampingan, perempuan tersebut memiliki banyak anak dan berada dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan.
Untuk itu, melalui kerja sama antara Dinas Sosial, kelurahan, dan pihak terkait, beberapa anaknya sempat dirujuk ke panti asuhan. Pada waktu itu, tiga orang anak ditempatkan di panti melalui koordinasi dengan Kelurahan Kamung 1 Skip.
“Karena kondisi ekonomi yang kekurangan, anak-anaknya kami rujuk ke panti. Itu dilakukan secara resmi dan melalui kerja sama lintas instansi,” ujar petugas.
Seiring berjalannya waktu, Dinas Sosial tidak sepenuhnya mengetahui perkembangan kehidupan yang bersangkutan di luar pendampingan. Diketahui kemudian bahwa perempuan tersebut kembali memiliki anak. Status pernikahannya pun tidak diketahui secara pasti.
Petugas menyebutkan, sosok ibu tersebut sebenarnya sudah lama terlihat beraktivitas di jalanan dan bukan baru muncul saat kembali viral belakangan ini.
Bahkan untuk penanganan pun telah dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Dinas Pemberdayaan Perempuan, serta unsur Dinas Sosial lainnya.
Sebagai klien lama, perempuan tersebut telah mendapatkan berbagai bentuk treatment dan pendampingan sosial. Salah satu persoalan utama yang dihadapi adalah ketiadaan tempat tinggal tetap.
Ia diketahui sering berpindah-pindah tempat, mulai dari menyewa kamar losmen hingga kos-kosan, tanpa hunian permanen.
Dalam pembahasan bersama Baznas, sempat disepakati agar perempuan tersebut bersama salah satu anak dan bayinya tinggal di Panti Baznas yang berada di Juatan. Seluruh kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan pengasuhan telah difasilitasi.
“Di panti sebenarnya sudah aman, kebutuhan makan dan tidur terpenuhi, ada yang mengurus juga,” jelas petugas.
Namun, perempuan tersebut diketahui meninggalkan panti tanpa pemberitahuan. Dinas Sosial kembali menerima laporan dari Baznas bahwa yang bersangkutan terlihat mengemis di jalanan. Saat ditemui kembali, perempuan tersebut mengaku ingin menjalani kehidupan seperti orang pada umumnya, beraktivitas di luar dan mencari uang sendiri, karena merasa aktivitas di panti terlalu terbatas.
Selain itu, beberapa anaknya juga telah dirujuk ke Panti Sosial Binar Majelis dan Rinda. Tim Dinas Sosial sempat melakukan kunjungan rumah (home visit) ke tempat tinggal terkininya. Hasilnya, kondisi hunian dinilai tidak layak, hanya berupa satu kamar kecil yang ditempati bersama dua anak, masing-masing balita dan bayi.
Dinas Sosial menegaskan bahwa penanganan kasus ini dilakukan secara tim dan berkelanjutan, bukan oleh satu orang saja. Koordinasi lintas instansi juga terus dilakukan, termasuk dalam rapat-rapat bersama Baznas.
“Yang jelas, kami tahu dan kami tidak membiarkan. Kasus ini sudah ditangani, termasuk pengamanan oleh OPP. Dari Binar Sosial, penanganan tetap berjalan,” tegas petugas.
Dinas Sosial berharap masyarakat memahami bahwa penanganan persoalan sosial membutuhkan proses, kerja sama banyak pihak, serta kesediaan klien untuk mengikuti program pendampingan yang telah disediakan pemerintah.(*)











Discussion about this post