Tarakan – Anggota DPRD Kota Tarakan, Asrin R. Saleh, meminta Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Perikanan untuk lebih proaktif dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada nelayan serta pembudidaya rumput laut guna mengantisipasi terjadinya gagal panen yang terus berulang setiap tahun.
Menurut Asrin, jika fenomena gagal panen memang dipengaruhi oleh perubahan iklim yang terjadi secara berkala, maka pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif melalui penyusunan kalender tanam yang dapat menjadi pedoman bagi masyarakat pesisir dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan budidaya.
“Harapan kami kepada pemerintah, khususnya Dinas Perikanan Kota Tarakan, agar segera merealisasikan dan mensosialisasikan kalender tanam. Dengan adanya pedoman tersebut, para pembudidaya rumput laut dan nelayan memiliki dasar yang jelas mengenai waktu yang tepat untuk menanam sehingga risiko gagal panen dapat diminimalkan,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan kalender tanam akan sangat membantu para ketua kelompok pembudidaya maupun masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok tani atau kelompok nelayan. Dengan demikian, seluruh pelaku usaha budidaya dapat memperoleh informasi yang sama terkait kondisi cuaca dan musim tanam yang ideal.
Selain itu, Asrin juga meminta para penyuluh perikanan untuk lebih aktif turun ke lapangan memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat pesisir. Menurutnya, pendampingan yang berkelanjutan sangat penting agar nelayan dan pembudidaya memiliki pengetahuan yang memadai dalam menghadapi perubahan cuaca dan kondisi lingkungan.
“Penyuluh harus lebih proaktif memberikan edukasi kepada para nelayan dan pembudidaya. Dengan begitu, mereka memiliki pemahaman yang cukup sehingga tidak terus-menerus mengalami gagal panen setiap kali memulai masa tanam,” katanya.
Di sisi lain, Asrin kembali mendesak Dinas Perikanan untuk melakukan penelitian mendalam terkait penyebab gagal panen yang belakangan banyak dikeluhkan masyarakat. Ia menilai terdapat indikasi faktor lain selain perubahan iklim yang perlu diidentifikasi.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, gagal panen tidak terjadi secara merata di seluruh lokasi budidaya. Bahkan, kerusakan lebih banyak dialami pada bentangan rumput laut yang baru ditanam sekitar tiga hari, sedangkan tanaman yang telah berusia lebih dari dua minggu relatif tidak terdampak.
“Ini yang menjadi pertanyaan masyarakat. Jika penyebabnya hanya perubahan iklim, mengapa yang terdampak justru bentangan yang baru ditanam, sementara yang sudah berumur lebih dari dua minggu tidak mengalami gagal panen. Karena itu kami meminta Dinas Perikanan segera melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang menjadi penyebab,” tegasnya.
Asrin berharap hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tepat untuk melindungi nelayan dan pembudidaya rumput laut, sekaligus menjaga keberlangsungan sektor perikanan dan budidaya di Kota Tarakan.(*)











Discussion about this post