Tarakan — Ratusan ekor sapi yang baru tiba di Kota Tarakan menjalani pemeriksaan kesehatan ketat sebelum didistribusikan ke masyarakat. Petugas karantina hewan memastikan seluruh ternak dalam kondisi sehat melalui pengambilan sampel dan uji laboratorium.
Paramedik karantina hewan, Bambang Suryono, menjelaskan bahwa sekitar 420 ekor sapi telah tiba dan langsung dilakukan penyampelan untuk memastikan tidak membawa penyakit.
“Pengujian ini penting agar sebelum diserahkan ke masyarakat, kita pastikan dulu kesehatannya. Hasil uji laboratorium biasanya keluar dalam waktu tiga hari,” ujarnya.
Menurut Bambang, sampel yang diambil berupa darah yang kemudian diproses menjadi serum untuk diuji di laboratorium. Pemeriksaan difokuskan pada kemungkinan penyakit, termasuk yang berkaitan dengan parasit darah.
Pengambilan sampel dilakukan di tiga titik lokasi, yakni Pasir Putih, kandang milik peternak, dan area penampungan lainnya. Metode pengambilan dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan kondisi fisik sapi.
“Kalau secara fisik ada indikasi kurang sehat, itu yang kita prioritaskan untuk diuji,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski sapi telah diperiksa di daerah asal seperti Gorontalo, pengujian ulang tetap dilakukan di Tarakan. Hal ini karena penularan penyakit tidak hanya melalui hewan, tetapi juga dapat melalui media lain selama proses pengiriman, termasuk kapal.
Jika ditemukan indikasi penyakit, seluruh kelompok sapi dalam satu kandang akan dikarantina. Selama masa karantina, sapi tidak langsung dijual dan akan dipantau selama minimal satu minggu hingga 14 hari dengan pengujian ulang.
“Kalau hasilnya sudah dinyatakan bebas penyakit, baru bisa didistribusikan. Kalau masih ada indikasi, karantina dilanjutkan dan dilakukan pengobatan,” katanya.
Bambang memastikan bahwa pengobatan terhadap sapi yang terindikasi sakit diberikan secara gratis oleh petugas.
Tahun ini, pihak karantina belum menemukan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi yang masuk. Berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana sempat ditemukan kasus di beberapa wilayah, termasuk kawasan Rawasari.
Sebagai langkah antisipasi, pengawasan tetap diperketat mengingat rencana pemasukan sapi ke Tarakan diperkirakan mencapai 1.500 ekor secara bertahap, dengan sebagian besar didatangkan dari Gorontalo oleh sejumlah pengusaha pengumpul.
“Kita fokus di pintu masuk dan keluar. Setelah itu, pengawasan dilanjutkan oleh dinas terkait di daerah,” pungkasnya.(*)












Discussion about this post