Tarakan — Kerusakan jembatan kayu di Kelurahan Pantai Amal kembali menjadi keluhan warga. Dari lima jembatan yang ada, sedikitnya tiga di antaranya kini dalam kondisi rusak parah dan membutuhkan perbaikan segera karena menjadi akses utama bagi sekitar 15 RT.
Selama puluhan tahun, warga terpaksa mengandalkan swadaya atau urunan untuk memperbaiki jembatan tersebut. Ketua RT 7, Irianto, menyebut jembatan sudah ada sejak awal 2000-an, seiring berkembangnya permukiman di wilayah itu. Namun, kondisi jembatan semakin memburuk akibat tingginya aktivitas kendaraan berat seperti truk pengangkut rumput laut hingga bus sekolah.
“Biasanya jembatan kayu seperti ini hanya bertahan sekitar enam bulan. Setelah itu rusak lagi dan harus diperbaiki ulang secara swadaya,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan jembatan juga kerap menimbulkan kecelakaan. Bahkan, pernah terjadi korban meninggal dunia akibat terjatuh saat melintas di jembatan yang tidak stabil.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat RT 14 sekaligus Ketua LPM Pantai Amal, Eka Putra Mulyadi. Ia mengungkapkan bahwa bantuan pemerintah pernah diberikan pada Oktober 2024, namun tidak bertahan lama.
“Sudah diperbaiki, tapi sekarang rusak lagi. Umurnya memang tidak lama,” katanya.
Eka menjelaskan, setiap perbaikan membutuhkan biaya besar. Warga biasanya mengumpulkan dana sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta dari iuran kecil, sementara pengusaha rumput laut turut berkontribusi hingga total biaya mencapai sekitar Rp50 juta untuk material.
“Sebagian dana habis untuk konsumsi gotong royong, sisanya dibantu pengusaha untuk beli bahan,” jelasnya.
Selain masalah jembatan, warga juga menghadapi ancaman banjir akibat pendangkalan sungai. Tumpukan kayu di bawah jembatan sering menghambat aliran air, sehingga saat hujan dan pasang laut terjadi bersamaan, air meluap ke permukiman.
“Kalau kayu tidak ditambah, jembatan tidak kuat. Tapi kalau terlalu banyak, aliran air terhambat. Ini seperti simalakama,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan untuk memberikan solusi permanen, termasuk memperbaiki jembatan secara menyeluruh dan menangani persoalan sungai. Mereka juga meminta agar masalah kepemilikan lahan tidak menghambat pembangunan.
“Jembatan ini urat nadi masyarakat, apalagi untuk anak-anak sekolah. Kami berharap ada perhatian serius dan pengawalan dari DPRD,” pungkasnya.(*)











Discussion about this post