TARAKAN – Peringatan Bulan Bahasa dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi momentum bagi sekolah untuk mendorong kreativitas dan meningkatkan kemampuan literasi siswa.
Salah satunya dilakukan SMP Negeri 2 Tarakan dengan menggelar berbagai perlombaan yang tidak hanya melibatkan siswa internal sekolah, tetapi juga mengundang sejumlah sekolah lain di lingkungan gugus maupun mitra sekolah.
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kota Tarakan, Abdul Rahman, S.Pd.I., menjelaskan, kegiatan Bulan Bahasa pada dasarnya menjadi agenda tahunan yang pelaksanaannya diserahkan kepada kebijakan masing-masing sekolah.
Menurutnya, setiap sekolah memiliki cara tersendiri dalam memeriahkan Bulan Bahasa. Mulai dari penggunaan pakaian batik nasional, pakaian adat, upacara peringatan, hingga berbagai perlombaan yang berkaitan dengan bahasa dan sastra.
“Kalau Bulan Bahasa memang biasanya diinisiasi masing-masing sekolah. Pelaksanaannya menyesuaikan kebijakan sekolah, ada yang menggelar lomba, menggunakan pakaian adat, batik, maupun kegiatan lainnya,” ujarnya.
Khusus di SMP Negeri 2 Tarakan, peringatan tahun ini dilaksanakan lebih luas dengan melibatkan beberapa sekolah lain, di antaranya SMP Negeri 1 Tarakan dan SMP Tahfiz, serta sejumlah sekolah lainnya. Perlombaan yang digelar di antaranya menulis dan membaca puisi.
Abdul Rahman menyebutkan, jumlah peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 30 orang, terdiri dari siswa SMP Negeri 2 Tarakan dan perwakilan sekolah undangan.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan perlombaan tingkat Kota Tarakan, melainkan kegiatan yang melibatkan sekolah-sekolah dalam lingkup mitra dan gugus. Sementara secara keseluruhan, sekolah-sekolah di Tarakan tetap melaksanakan peringatan Bulan Bahasa di lingkungan masing-masing.
Pelaksanaan kegiatan di SMP Negeri 2 Tarakan juga didukung pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja. Dukungan anggaran tersebut diperoleh karena sekolah berhasil melahirkan siswa berprestasi hingga tingkat nasional.
“BOS Kinerja itu dimanfaatkan kembali untuk peningkatan kualitas sekolah, termasuk kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada siswa. Salah satunya dengan melibatkan sekolah lain dalam kegiatan seperti ini,” jelasnya.
Abdul Rahman menambahkan, meskipun tidak memperoleh BOS Kinerja, kegiatan Bulan Bahasa tetap menjadi agenda yang diupayakan berlangsung setiap tahun, setidaknya di lingkungan internal sekolah. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.(*)











Discussion about this post