TARAKAN – Prosesi lamaran calon mempelai laki-laki kepada calon perempuan menjadi sorotan di Tarakan setelah keluarga menyiapkan pemberian dengan total nilai sekitar Rp2,2 miliar. Pemberian tersebut terdiri atas uang panai Rp600 juta dan satu unit rumah senilai sekitar Rp1,6 miliar.
Kedua calon mempelai diketahui sama-sama berprofesi sebagai dokter. Besarnya nilai pemberian tersebut pun menjadi perhatian dalam rangkaian prosesi lamaran kedua keluarga.
Keterangan tersebut disampaikan Iskandar, selaku kakek calon mempelai laki-laki, saat mendampingi prosesi lamaran.
Iskandar menjelaskan, uang tunai Rp600 juta merupakan hasil kesepakatan kedua keluarga. Sementara itu, rumah senilai sekitar Rp1,6 miliar merupakan hadiah dari orang tua calon mempelai laki-laki kepada anaknya.
“Jujurannya itu sekitar Rp600 juta, ditambah dengan hadiah rumah dari orang tua laki-laki,” ujar Iskandar.
Dengan demikian, total pemberian dalam rangkaian lamaran tersebut mencapai sekitar Rp2,2 miliar, yang terdiri atas uang tunai Rp600 juta dan rumah senilai Rp1,6 miliar.
Iskandar menegaskan, tidak ada filosofi atau makna khusus di balik nominal tersebut. Menurutnya, nilai pemberian itu merupakan hasil kesepakatan dalam pertemuan kedua keluarga.
“Sebenarnya tidak ada, hanya istilahnya pertemuan antara keluarga perempuan dengan laki-laki, kita sepakati. Tidak ada filosofinya,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan, uang tunai Rp600 juta merupakan hasil kesepakatan keluarga, sedangkan rumah diberikan orang tua calon mempelai laki-laki kepada anaknya.
“Uang tunainya Rp600 juta, rumahnya Rp1,6 miliar. Itu hadiah orang tua laki-laki ke anaknya,” katanya.
Sementara itu, Muh. Astra, paman calon mempelai laki-laki, menilai pemberian tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa. Menurutnya, uang panai Rp600 juta ditambah rumah senilai Rp1,6 miliar menunjukkan besarnya perhatian keluarga terhadap kedua calon pengantin.
“Kalau saya pribadi, ini merupakan luar biasa ya terkait dengan uang mahal atau uang panai. Karena dengan jumlah segitu, Rp600 juta tambah rumah itu sudah luar biasa,” ujar Muh. Astra.
Menurutnya, hal tersebut semakin menarik karena kedua calon mempelai sama-sama berprofesi sebagai dokter.
“Apalagi yang kita lihat, fokusnya dokter ya? Ditambah dengan dua-duanya dokter,” katanya.
Muh. Astra juga menjelaskan, rumah tersebut berasal dari ayah calon mempelai laki-laki dan dipersiapkan untuk ditempati kedua calon pengantin di Makassar.
“Kemudian hadiah rumah itu sebenarnya dari bapaknya. Bapaknya yang memberikan untuk mereka tempati di Makassar. Informasinya begitu,” jelasnya.
Meski demikian, Muh. Astra mengaku belum mengetahui secara pasti apakah kedua calon pengantin telah sepakat menetap di Makassar atau memilih tinggal di daerah asal.
“Saya kurang paham apakah mereka sudah ada kesepakatan mau tinggal di sana atau tetap di sini,” ujarnya.
Pemberian uang panai dan rumah tersebut menjadi bagian dari rangkaian prosesi lamaran yang mempertemukan kedua keluarga calon mempelai sebelum dilanjutkan dengan acara penyerahan.
Iskandar menyebut dirinya hadir dalam prosesi tersebut sebagai kakek calon mempelai laki-laki.
“Saya Iskandar, kakek dari cucu, calon mempelai laki-laki,” tutupnya.(*)











Discussion about this post