TARAKAN – Suasana hari pertama masuk sekolah pasca Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) diwarnai antusiasme para orang tua yang mengantar anak mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (13/7/2026). Hal itu terlihat di SDN Utama 2 Tarakan, Kelurahan Pamusian, di mana halaman sekolah dipenuhi orang tua yang melakukan daftar ulang maupun menunggu anak mereka selesai mengikuti kegiatan belajar.
Di tengah ramainya suasana tersebut, tampak seorang nenek yang sejak pagi tidak beranjak dari lingkungan sekolah. Ia adalah Yuliana, warga RT 14 Kelurahan Pamusian, yang setia menunggu dua cucunya mengikuti hari pertama sekolah.
Sejak pukul 06.30 Wita, Yuliana telah berada di SDN Utama 2 untuk mengantar Vanesa, siswi kelas 3D, dan Makna Arkanarendra, yang baru memulai pendidikan di kelas 1B.
Meski kedua cucunya telah masuk ke ruang kelas, Yuliana memilih tetap menunggu hingga jam pelajaran usai. Baginya, hari pertama sekolah merupakan momen istimewa yang ingin ia lalui bersama cucu-cucunya.
“Tadi setengah tujuh sudah ke sini. Sampai sekarang. Sengaja nunggu, tapi jauh dari kelasnya cucu,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia memperkirakan akan berada di sekolah hingga sekitar pukul 10.00 Wita, menunggu kepulangan Makna yang masih duduk di kelas 1. Berbeda dengan kekhawatiran banyak orang tua, Makna justru tidak menunjukkan rasa takut ataupun menangis saat ditinggal di kelas.
Menurut Yuliana, kedua cucunya sudah terbiasa dengan suasana sekolah karena sebelumnya mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak.
“Mau saja ditinggal di kelas. Semangat. Saya bilang, semangat kalau sekolah,” katanya.
Bahkan, malam sebelum hari pertama sekolah, Makna tidak menunjukkan rasa gugup. Yuliana mengaku sudah terbiasa mengantar cucu ke sekolah. Saat Vanesa pertama kali masuk SD beberapa tahun lalu, ia juga melakukan hal serupa.
“Yang dulu juga begitu. Satu minggu saya di sini,” tuturnya.
Namun, kali ini ia kemungkinan tidak bisa terus menemani karena akan kembali bekerja di Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang segera berjalan kembali.
“Kalau saya besok kerja di MBG, besok kayaknya gantian,” katanya.
Peran Yuliana sebagai pengantar sekaligus penunggu cucu dilakukan karena kedua orang tua Vanesa dan Makna sama-sama bekerja.
“Mamaknya kerja, bapaknya juga kerja. Jadi neneknya yang antar,” ujarnya.
Di balik kebahagiaan mengantar cucu pada hari pertama sekolah, Yuliana menyimpan cerita perjuangan panjang saat proses SPMB.
Makna Arkanarendra mendaftar melalui jalur domisili. Meski rumah mereka berada tepat di belakang sekolah, proses seleksi sempat membuat Yuliana harap-harap cemas. Posisi cucunya dalam daftar penerimaan terus berubah hingga mendekati batas kuota.
“Dari 83 sampai 101. Yang diterima 102,” kenangnya.
Menurutnya, usia menjadi faktor penentu pada jalur domisili. Makna yang baru berusia 6 tahun 2 bulan 19 hari harus bersaing dengan calon siswa lain yang usianya lebih tua.
“Padahal jaraknya dekat. Yang diutamakan memang umur,” katanya.
Selama proses pengumuman berlangsung, Yuliana berkali-kali datang ke sekolah untuk memantau perkembangan hasil seleksi. Ia rela menunggu berjam-jam setiap kali ada pembaruan daftar penerimaan.
“Panjang perjuangan. Dari mendaftar sampai kemarin sama guru-guru. Saya tunggu terus. Banyak perubahan. Saya berdoa, ya Tuhan mudah-mudahan cucuku diterima di belakang rumah,” tuturnya.
Apabila Makna tidak diterima di SDN Utama 2, Yuliana mengaku telah menyiapkan pilihan lain di SDN 05 Tarakan meski lokasinya lebih jauh dari rumah.
“Saya mungkin di SDN 05. Agak jauh. Lebih dekat di sini, kan di belakang sekolah,” katanya.
Bagi Yuliana, SDN Utama 2 memiliki nilai sentimental tersendiri. Selain dekat dengan rumah, keempat anaknya juga pernah mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.
Kini, setelah perjuangan itu berbuah manis dengan diterimanya Makna sebagai siswa baru, Yuliana hanya ingin menikmati momen sederhana sebagai seorang nenek. Duduk di halaman sekolah, menunggu hingga bel pulang berbunyi, lalu menyambut kedua cucunya dengan senyum lega.
“Baru saya lega sudah. Tapi ini cucu saya tidak takut ditinggal, malah saya disuruh pulang masakkan kakeknya,”bebernya(*)











Discussion about this post