Tarakan – Kepala Sekolah Rakyat Kota Tarakan, Marisa A., mengungkapkan bahwa program Sekolah Rakyat telah membawa perubahan signifikan bagi para siswa, baik dari sisi karakter, kesehatan, maupun kemampuan akademik.
Menurut Marisa, perubahan paling terlihat adalah meningkatnya rasa percaya diri para siswa. Selain itu, banyak anak yang ternyata memiliki kemampuan akademik yang baik, namun sebelumnya tidak terlihat karena terhambat kondisi ekonomi keluarga.
“Anak-anak kami jauh lebih percaya diri. Kemampuan akademiknya juga banyak memberikan kejutan. Banyak yang sebenarnya memiliki potensi akademik sangat baik, tetapi selama ini tertutupi oleh kondisi kemiskinan,” ujarnya.
Selain prestasi akademik, perubahan juga terlihat dari sikap dan perilaku siswa. Anak-anak dinilai lebih mampu mengendalikan emosi, lebih sopan kepada orang yang lebih tua, serta mulai menghargai perbedaan.
Marisa menjelaskan bahwa pembinaan di Sekolah Rakyat diawali dengan asesmen untuk mengetahui potensi dan kebutuhan setiap anak. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam menyusun program pembelajaran dan pembinaan.
“Kami melihat apa yang sudah dimiliki anak-anak dan apa yang mereka butuhkan. Potensi yang sudah ada kami kembangkan, sedangkan kekurangan mereka kami lengkapi,” katanya.
Tidak hanya fokus pada pendidikan, Sekolah Rakyat juga memberikan perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi siswa. Pihak sekolah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk menangani berbagai permasalahan kesehatan yang ditemukan.
“Kami melengkapi nutrisi mereka yang kurang dan memperbaiki kondisi kesehatan mereka melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas,” jelasnya.
Sebagai sekolah berasrama, aktivitas siswa berlangsung dengan jadwal yang teratur sejak dini hari hingga malam. Marisa mengatakan pembinaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kebiasaan hidup disiplin, pola hidup sehat, hingga pendampingan akademik.
“Dari bangun tidur sekitar pukul 04.00 hingga kembali beristirahat pada malam hari, seluruh kegiatan anak-anak terpantau dan dibina,” ujarnya.
Apabila ditemukan masalah kesehatan maupun bakat tertentu, sekolah segera memberikan tindak lanjut. Misalnya, siswa yang mengalami gangguan kesehatan dirujuk ke puskesmas, sementara siswa yang memiliki bakat di bidang tertentu langsung difasilitasi dengan kegiatan ekstrakurikuler sesuai minatnya.
“Kalau ada anak yang berbakat, misalnya di bidang silat, kami langsung menghadirkan guru ekstrakurikulernya agar bakat itu bisa berkembang,” kata Marisa.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar bukan berasal dari siswa, melainkan dari kondisi sosial ekonomi keluarga. Menurutnya, masih ada orang tua yang lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi jangka pendek sehingga mengajak anak kembali bekerja membantu mencari nafkah.
“Kendala terbesar kami adalah kerja sama dengan orang tua. Masih ada yang berpikir untuk memenuhi kebutuhan hari ini, sehingga anak diajak kembali berjualan, padahal pendidikan sangat penting untuk masa depan mereka,” tuturnya.
Marisa menambahkan, sekolah tidak memiliki kewenangan untuk melarang orang tua membawa pulang anaknya. Kondisi tersebut, menurutnya, masih terjadi hingga saat ini dan menjadi tantangan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.(*)











Discussion about this post