TARAKAN – Perumda Tirta Alam Kota Tarakan memastikan distribusi air bersih kepada pelanggan masih berjalan normal dan mengalir secara kontinu selama 24 jam, meski Kota Tarakan telah 32 hari tidak diguyur hujan akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat sejumlah sumber air baku mulai mengalami penurunan debit, bahkan Embung Kampung Satu atau Embung Binalatung kini berada dalam kondisi kritis. Kendati demikian, Perumda Tirta Alam belum memberlakukan sistem distribusi air secara bergilir.
Kepala Bagian Operasional Perumda Tirta Alam Tarakan, Sunarto, mengatakan kondisi pasokan air saat ini masih terbantu oleh sejumlah embung yang masih memiliki cadangan air cukup, terutama Embung Indulung dan Embung Bengawan.
“Terima kasih kepada media yang sudah berkenan ke PDAM Tirta Alam Tarakan. Dan ini memang tentunya menjadi PR kita bersama ya. Karena hampir sepekan, dalam artian sesuai kalender yang saya tandai itu, hari ini hari yang ke-32 hari tidak hujan,” ujar Sunarto saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, masyarakat Kota Tarakan masih patut bersyukur karena hingga saat ini kemarau panjang belum berdampak terhadap kontinuitas distribusi air bersih.
“Tapi kami masih bersyukur, walaupun 32 hari tidak hujan, tapi kita bisa merasakan bersama, khususnya masyarakat Kota Tarakan, kita masih bisa mengalirkan air secara kontinyu,” tambahnya.
Sunarto menjelaskan, kondisi sumber air baku di sejumlah embung saat ini berbeda-beda. Embung Kampung Satu menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan karena mengalami penurunan elevasi cukup signifikan.
Embung yang memiliki kapasitas normal rata-rata sekitar 150 ribu meter kubik tersebut saat ini berada pada posisi minus 222 sentimeter.
“Sangat kritis, terutama embung yang ada di Kampung Satu. Sampai hari ini minus 222 cm. Jadi dari lubang hisap itu sudah muncul. Nah, artinya mungkin tiga hari ke depan itu mungkin sudah tidak bisa berproduksi dari Embung Persemaian Kampung Satu,” ungkapnya.
Namun, kondisi tersebut masih dapat diantisipasi karena Perumda Tirta Alam memperoleh dukungan pasokan dari Embung Indulung. Embung ini menjadi salah satu penopang utama air baku karena memiliki kapasitas penampungan lebih dari 300 ribu meter kubik.
“Tapi alhamdulillah, kami masih eksis karena ada suplai air dari Embung Indulung. Embung Indulung sampai hari ini baru minus 2 dari 300, artinya suplai masih support. Makanya sampai hari ini kita rasakan bersama air-air masih bisa mengalir,” jelas Sunarto.
Saat ini, cadangan air di Embung Indulung diperkirakan masih berada di kisaran 288 ribu meter kubik.
Sementara itu, Embung Rawasari juga mengalami penurunan elevasi sebesar 86 sentimeter dari kondisi normal. Meski demikian, suplai air dari embung tersebut masih berlangsung dengan baik.
“Persemaian itu, embung dari Rawasari, minus 86 cm, tapi kontinyu air suplai masih berjalan dengan baik,” katanya.
Berbeda dengan sejumlah embung lainnya, kondisi Embung Bengawan justru masih tergolong aman. Bahkan, elevasi air di embung tersebut berada di atas batas normal.
Dari batas ketinggian normal 300 sentimeter, level air Embung Bengawan saat ini mencapai 338 sentimeter atau surplus 38 sentimeter dan mengalami limpasan.
“Embung Bengawan sampai hari ini malah plus. Plusnya 38, dari 300 plus 38, limpas. Nah, dari Embung Bengawan suplailah ke Embung Persemaian, Sungai Persemaian,” tutur Sunarto.
Untuk wilayah Persemaian, pasokan air bertumpu pada alur sungai dan intake yang memperoleh suplai cadangan dari Embung Bengawan serta Rawasari. Sementara itu, kondisi stok air baku untuk wilayah Juata Laut masih aman dan distribusinya tetap berjalan normal.
“Terus Juata Laut sampai hari ini masih kontinyu, tidak ada perubahan, airnya juga tetap mengalir dengan aman,” tegasnya.
Sedangkan IPA Kampung Bugis mendapatkan pasokan air dari dua sumber, yakni Embung Rawasari dan Embung Kampung Satu.
“Kalau Kampung Bugis ini kan suplainya dari dua ya. Dari Rawasari disuplai ke sini, juga ada suplai dari Embung Kampung Satu,” ujarnya.
Dengan kondisi sumber air baku saat ini, Sunarto memperkirakan pasokan air secara keseluruhan masih dapat bertahan sekitar satu pekan ke depan. Hal itu sangat bergantung pada kondisi debit di Embung Bengawan dan Embung Indulung.
“Kondisi seperti ini mungkin masih semingguan kali ya. Yang penting pada prinsipnya Embung Bengawan sama Embung Indulung itu selama debitnya masih di atas rata-rata, insya Allah masih bisa produksi,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang, Perumda Tirta Alam juga merencanakan penambahan unit pompa di Embung Indulung. Saat ini terdapat dua unit pompa dan ke depan direncanakan menjadi tiga unit.
“Rencana sih kami akan memasang tiga pompa ya. Kan di Indulung itu dua pompa. Rencana akan kami pasang tiga pompa supaya untuk menaikkan debit untuk suplai ke Kampung Satu maupun ke Kampung Bugis,” papar Sunarto.
Menurutnya, penambahan pompa tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas suplai air baku sehingga pelayanan tetap terjaga meski terjadi kemarau berkepanjangan.
“Kalau seandainya tiga pompa, insya Allah, Pak, mungkin walaupun dikatakan kayak kemarau seperti ini, kami masih surplus untuk air,” imbuhnya.
Pengadaan pompa baru tersebut saat ini masuk dalam tahap penganggaran pada 2026 dan direncanakan direalisasikan melalui proses pengadaan pada 2027.
Sementara untuk opsi menyewa pompa, Perumda Tirta Alam masih mempertimbangkan aspek efisiensi anggaran.
“Kalau sewa kayaknya mungkin enggak ya, karena kita melihat kondisi di PDAM pada prinsipnya kita semuanya serba efisiensi. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau memang itu urgency, ya mau tidak mau kita harus melakukan,” jelasnya.
Di sisi lain, Sunarto menyebut hingga saat ini belum ada keluhan pelanggan terkait air mati. Keluhan yang lebih banyak disampaikan justru berkaitan dengan meningkatnya pemakaian air.
Menurutnya, hal itu salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan tekanan air dalam jaringan distribusi.
“Sampai hari ini pelanggan belum ada yang ngeluh air mati. Masih mengeluh pemakaian bengkak. Karena dulu sebelum Pak Direktur Pak Iwan itu kan bar-nya kita kan kecil, setelah Pak Iwan kan rata-rata 7 bar sampai 8 bar,” ungkapnya.
Dengan tekanan air yang lebih tinggi, distribusi air disebut mampu menjangkau pelanggan hingga bangunan bertingkat tanpa harus menggunakan pompa penyedot.
“Makanya biar di lantai dua, lantai tiga, insya Allah masih mampu tidak perlu pakai pompa sedot,” tambahnya.
Menghadapi kondisi kemarau yang masih berlangsung, Perumda Tirta Alam mengimbau masyarakat Kota Tarakan untuk menggunakan air secara bijak dan tidak berlebihan.
“Saya menghimbau ya kepada masyarakat, khususnya pelanggan Kota Tarakan, minta tolong bijak dalam menggunakan air. Gunakan air secukupnya. Yang kedua, setelah memakai air tolong stop kerannya dimatikan,” kata Sunarto.
Ia juga meminta masyarakat memanfaatkan air hujan apabila kembali turun dengan menampungnya untuk kebutuhan tertentu.
“Apabila ada hujan dalam waktu dekat ini tolong ditampung, jangan disia-siakan. Yang ketiga, jangan membuang sampah sembarangan, jangan juga membakar sampah sembarangan,” ujarnya.
“Mari kita bergandengan tangan menunjang kelangsungan kontinyu-nya air mengalir,” tutupnya. (**)











Discussion about this post