Tarakan — Warga RT 5 Kelurahan Lingkas Ujung mengkhawatirkan kondisi permukiman yang rawan longsor setelah kembali terjadi peristiwa tanah ambles pada Kamis pagi sekitar pukul 05.30 WITA.
Ketua RT 5, Muliani, mengungkapkan bahwa informasi awal diperoleh dari salah satu warga, Ibu Chaya, yang mendengar suara gemuruh dari arah belakang rumah.
“Dikira gempa, karena suaranya besar. Tapi setelah dilihat dari jendela, ternyata tanah di belakang rumah sudah longsor,” ujarnya.
Longsor tersebut terjadi di bagian belakang rumah warga yang masih satu bangunan, sementara penghuni lain tidak langsung menyadari kejadian tersebut karena berada di bagian depan rumah.
Menurut Muliani, wilayah RT 5 memang tergolong rawan longsor. Bahkan, kejadian serupa kerap terjadi di beberapa titik sepanjang kawasan tersebut.
“Dari ujung sampai ke atas sana itu sering longsor. Ada beberapa titik, bahkan sebelumnya juga sudah pernah terjadi,” jelasnya.
Ia menyebutkan, setidaknya terdapat tiga titik rawan longsor di wilayah RT 5, termasuk di bagian depan dan area atas permukiman. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya pembangunan siring atau penahan tanah secara menyeluruh.
“Baru sebagian kecil yang dipasang siring, itu pun belum sampai ke belakang. Padahal yang paling rawan justru di bagian atas,” katanya.
Muliani menambahkan, kondisi tanah di bagian atas saat ini sangat mengkhawatirkan karena sudah menggantung dan berpotensi longsor jika terjadi hujan deras.
Salah satu rumah yang berada di area atas diketahui milik warga bernama Zainuddin Muhammad, yang telah lama menetap di kawasan tersebut.
“Kalau hujan, yang di atas itu sangat rawan runtuh karena tanahnya sudah menggantung,” ungkapnya.
Berdasarkan catatan warga, longsor besar pernah terjadi sekitar 10 tahun lalu, sementara kejadian lain juga terjadi sekitar dua tahun terakhir di titik berbeda.
Meski demikian, hingga saat ini penanganan dinilai masih minim. Muliani menyebutkan bahwa bantuan yang diberikan umumnya hanya bersifat sementara.
“Biasanya hanya diberikan terpal. Untuk pembangunan seperti siring atau perbaikan permanen belum ada,” katanya.
Pihak RT juga telah beberapa kali mengusulkan program bedah rumah bagi warga yang terdampak. Dari pendataan, terdapat sekitar 20 rumah di wilayah tersebut yang dinilai layak mendapatkan bantuan.
“Selama saya menjabat, sudah dua kali kami usulkan. Tapi sampai sekarang masih menunggu proses,” ujarnya.
Sementara itu, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah turun ke lokasi untuk melakukan pendataan. Namun, hingga kini belum ada tindakan lanjutan selain rencana pemberian bantuan darurat.
“Mereka sudah datang, tapi penanganannya masih menunggu. Katanya mau diusulkan dulu bantuan terpal,” tambahnya.
Warga berharap adanya penanganan serius dari pemerintah, mengingat kondisi tanah yang terus bergerak dan berpotensi membahayakan permukiman.
“Kami berharap ada solusi permanen, karena ini menyangkut keselamatan warga,” pungkasnya.(*)













Discussion about this post