TARAKAN – Dinas Pendidikan Kota Tarakan memberikan perhatian khusus terhadap meningkatnya jumlah anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendampingan dan penanganan sejak usia dini. Salah satu upaya yang disiapkan yakni melalui program Balik Anak Hebat, yang bertujuan membantu anak mendapatkan pemeriksaan, pendampingan, serta terapi secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Endah Sarastiningsih, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan, berdasarkan data hasil pemantauan dan skrining, jumlah anak yang teridentifikasi membutuhkan perhatian khusus menunjukkan tren peningkatan. Dari data yang disampaikan, jumlahnya meningkat dari 79 anak menjadi 104 anak pada tahun berikutnya.
Menurut Endah, penanganan anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya melalui pemeriksaan awal. Diperlukan sinergi antara dokter, tenaga ahli, psikolog, orang tua, dan pihak sekolah agar setiap anak mendapatkan penanganan sesuai kondisi dan kebutuhannya.
“Anak-anak ini secara fisik mungkin terlihat normal, tetapi ada yang mengalami keterlambatan berbicara, kesulitan berinteraksi, hiperaktif, hingga perilaku tertentu yang membutuhkan perhatian khusus. Karena itu, penanganannya harus bersama-sama dan tidak boleh terputus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program Balik Anak Hebat merupakan upaya membantu keluarga, khususnya masyarakat kurang mampu yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai kondisi tumbuh kembang anak. Sebab, tidak semua orang tua menyadari bahwa anaknya membutuhkan pemeriksaan atau terapi khusus. Sementara biaya terapi secara mandiri relatif tidak murah.
Program tersebut sebelumnya telah melalui tahap uji coba di Sekretariat Kelompok Kerja (Pokja) PAUD di Gedung Wanita Tarakan. Dari hasil evaluasi, pelaksanaan pemeriksaan membutuhkan keterlibatan dokter, tenaga ahli, dan psikolog secara bersamaan. Dalam satu sesi, tim hanya dapat menangani sekitar lima anak agar pemeriksaan lebih optimal.
Endah menambahkan, setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan penanganan berbeda. Karena itu, orang tua juga perlu memahami pola pengasuhan, pola makan, serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan anak. Pendampingan tidak boleh hanya dibebankan kepada sekolah atau tenaga terapis.
Selain membantu anak mendapatkan terapi, program ini juga diarahkan untuk memperkuat pendidikan inklusif di Kota Tarakan. Endah berharap anak berkebutuhan khusus tetap memperoleh kesempatan bersekolah bersama anak-anak lainnya dengan pendampingan yang sesuai.
Menurutnya, lingkungan sekolah umum dapat menjadi ruang pembelajaran sosial bagi anak. Melalui interaksi dengan teman sebaya, anak dapat belajar meniru perilaku positif, seperti duduk dengan tertib, berkomunikasi, dan memahami batasan perilaku.
“Anak-anak ini juga belajar dari lingkungan sekitarnya. Ketika melihat teman-temannya duduk dengan tertib dan tidak melakukan tindakan tertentu, mereka bisa belajar mengikuti. Karena itu, sekolah inklusif tetap penting, tentunya harus disertai pendampingan yang tepat,” jelasnya.
Ia menegaskan, pendampingan tidak boleh berhenti ketika anak menyelesaikan pendidikan di PAUD dan melanjutkan ke SD. Sebab, terapi dan pembiasaan yang sudah berjalan perlu diteruskan agar perkembangan anak tetap terjaga.
Disdik Tarakan juga mendorong seluruh sekolah agar mampu menerapkan pendidikan inklusif, termasuk meningkatkan pemahaman guru dalam menghadapi dan mendampingi anak berkebutuhan khusus.
“Guru juga perlu diberikan pemahaman bagaimana menghadapi anak inklusif. Harapannya, anak-anak ini tidak hanya mendapatkan pendampingan saat di PAUD, tetapi berlanjut sampai SD dan seterusnya, hingga mereka mampu bersosialisasi dengan baik,” pungkasnya.(*)











Discussion about this post